Kamis, 08 September 2011

Artikel Penelitian dan Non Penelitian

ARTIKEL PENELITIAN DAN NONPENELITIAN

A. ARTIKEL HASIL PENELITIAN
Hasil-hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk artikel untuk kemudian diterbitkan dalam jurnal-jurnal memiliki kelebihan disbanding dengan yang ditulis dalam bentuk laporan teknis resmi. Laporan teknis resmi memang dituntut untuk berisi hal-hal yang menyeluruh dan lengkap sehingga naskahnya cenderung tebal dan direproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas, akibatnya hanya kalangan yang sangat terbatas saja yang dapat membacanya. Sebaliknya, hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk artikel biasanya dituntut untuk berisi hal-hal yang penting saja oleh karena, setiap kali terbit, sebuah jurnal memuat beberapa artikel, sehingga ruang yang tersedia untuk sebuah terbatas. Hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk artikel dalam jurnal akan memberikan dampak akademik yang lebih cepat dan luas daripada laporan teknis resmi.
Sebelum ditampilkan sebagai artikel dalam jurnal, laporan penelitian harus disusun kembali agar memenuhi tata tampilan karangan sebagaimana yang dianjurkan oleh dewan penyunting jurnal yang bersangkutan dan tidak melampaui batas panjang karangan. Jadi, artikel hasil penelitian bukan sekadar bentuk ringkas atau “pengkerdilan” dari laporan teknis, tetapi merupakan hasil kerja penulisan baru, yang dipersiapkan dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tetap menampilkan secara lengkap semua aspek penting penelitian, tetapi dalam format artikel yang jauh lebih kompak dan ringkas daripada laporan teknis aslinya.

1. Ciri Pokok
Laporan dalam bentuk artikel ilmiah dibedakan dengan laporan teknis dalam tiga segi, yaitu bahan, sistematika, dan prosedur penulisan. Ciri pokok pertama yang membedakan artikel hasil penelitian dengan laporan penelitian teknis resmi adalah bahan yang ditulis. Artikel hasil penelitian untuk jurnal hanya berisi hal-hal yang sangat penting saja. Bagian yang dianggap paling untuk disajikan dalam artikel hasil tian adalah temuan penelitian, pembahasan hasil/temuan, dan kesimpulannya. Hal-hal selain ketiga hal tersebut cukup disajikan dalam bentuknya yang serba singkat dan seperlunya. Kajian pustaka lazin disajikan untuk mengawali artikel dan sekaligus merupakan suatu pembahasan tentang rasional pentingnya masalah yang diteliti. Bagian awal ini berfungsi sebagai latar belakang penelitian.
Ciri pokok kedua yang membedakan artikel hasil penelitian dengan laporan penelitian teknis resmi adalah sistematika penulisan yang digunakan. Laporan penelitian terdiri atas bab dan subbab, sedangkan artikel dan makalah terdiri atas bagian dan subbagian yang dapat diberi judul dan dapat pula tidak. Dalam laporan penelitian teknis resmi, kajian pustaka lazimnya disajikan di bagian kedua (Bab II), yakni setelah bagian yang membahas masalah, pentingnya penelitian, hipotesis (jika ada), dan tujuan penelitian. Dalam bagian artikel hasil penelitian, kajian pustaka merupakan bagian awal dari artikel (tanpa judul subbagian kajian pustaka) yang berfungsi sebagai bagian penting dari latar belakang. Kajian pustaka yang sekaligus berfungsi sebagai pembahasan latar belakang masalah penelitian ditutup dengan rumusan tujuan penelitian. Setelah itu, berturut-turut disajikan hal-hal yang berkaitan dengan prosedur penelitian, hasil dan temuan penelitian, pembahasan hasil, kesimpulan, dan saran.
Ciri pokok ketiga adalah prosedur penulisan artikel hasil penelitian. Ada tiga kemungkinan prosedur penulisan artikel hasil penelitian. Pertama, artikel hasil penelitian ditulis sebelum laporan penelitian teknis resmi secara lengkap dibuat. Tujuannya untuk menjaring masukan-masukan dari pembaca sebelum peneliti menyelesaikan tulisan lengkapnya dalam bentuk laporan penelitian teknis resmi. Masukan itu diharapkan meningkatkan kualitas hasil temuan penelitiannya. Kedua, artikel hasil untuk jurnal ditulis setelah laporan teknis resmi selesai disusun. Prosedur kedua ini berlaku karena pada umumnya menulis laporan penelitian teknis resmi merupakan kewajiban, sedangkan penulisan artikelnya hanya bersifat anjuran. Ketiga, artikel penelitian yang diterbitkan di jurnal merupakan satu-satunya tulisan yang dibuat oleh peneliti. Alternatif ketiga ini lazim dilakukan oleh peneliti yang mendanai penelitiannya sendiri. Bagi penelitian swadana, artikel hasil penelitian dalam jurnal merupakan forum komunikasi yang paling efektif dan efisien.

2. Isi dan Sistematika
Penulisan artikel menggunakan sistematika tanpa angka ataupun abjad. Berikut ini disajikan uraian tentang isi artikel hasil penelitian secara umum yang berlaku untuk hasil penelitian, baik penelitian kualitatif maupun kuantitatif.
a. Judul
Judul artikel hasil penelitian diharapkan dapat dengan cepat memberikan gambaran mengenai penelitian yang telah dilakukan. Karena itu, judul artikel hendaknya informatif, lengkap, tidak terlalu panjang/pendek, antara 5 – 15 kata.  Judul artikel memuat variabel-variabel yang diteliti atau kata kunci yang menggambarkan masalah yang diteliti. Variabel-variabel penelitian dan hubungan antarvariabel serta informasi lain yang dianggap penting hendaknya terlihat dalam judul artikel.

b. Nama Penulis
Untuk menghindari bias terhadap senioritas dan wibawa atau inferioritas penulis, nama penulis artikel tanpa disertai gelar akademik atau gelar profesional yang lain. Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan boleh disertakan. Nama lembaga tempat penulis bekerja ditulis sebagai catatan kaki di halaman pertama. Jika penulis lebih dari 2 orang, hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan di bawah judul disertai tambahan dkk. (dan kawan-kawan). Nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki atau di dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki tidak mencukupi.
c. Sponsor
Nama sponsor penelitian ditulis sebagai catatan kaki pada halaman pertama, diletakkan di atas nama lembaga asal peneliti.
d. Abstrak dan Kata Kunci
Abstrak berisi pernyataan ringkas dan padat tentang ide-ide yang paling penting. Dalam artikel hasil penelitian abstrak secara ringkas memuat uraian mengenai masalah dan tujuan penelitian, metode yang digunakan, prosedur penelitian (untuk penelitian kualitatif termasuk diskripsi tentang subjek yang diteliti),  dan hasil penelitian (bila dianggap perlu, juga kesimpulan dan implikasi). Tekanan utama diberikan kepada hasil penelitian. Hal-hal lain seperti hipotesis, pembahasan, dan saran tidak disajikan. Panjang abstrak 50 – 75 kata dan ditulis dalam satu paragraf. Abstrak diketik dengan spasi tunggal dengan menggunakan format yang lebih sempit dari teks utama (margin kanan dan kiri menjorok masuk 1,2 cm).
Kata kunci adalah kata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang diteliti (ranah masalah yang diteliti) atau istilah-istilah yang merupakan dasar pemikiran gagasan dalam karangan asli, berupa kata tunggal atau gabungan kata. Masalah yang diteliti ini sering tercermin dalam variabel-variabel penelitian dan hubungan antara variabel-variabel tersebut. Walaupun demikian, tidak ada keharusan kata-kata kunci diambil dari veriabel-variabel penelitian atau dari kata-kata yang tercantum di dalam judul artikel. Jumlah kata kunci antara 3 – 5 buah. Kata kunci diperlukan untuk komputerisasi sistem informasi ilmiah. Dengan kata kunci dapat ditemukan judul-judul penelitian beserta abstraknya dengan mudah.
e. Pendahuluan
 Pendahuluan tidak diberi judul, ditulis langsung setelah abstrak dan kata kunci. Bagian ini menyajikan kajian pustaka yang berisi paling sedikit tiga gagasan: (1) latar belakang atau rasional penelitian, (2) masalah dan wawasan rencana pemecahan masalah, (3) rumusan tujuan penelitian (dan harapan tentang manfaat hasil penelitian).
Bagian kajian pustaka harus disertai rujukan yang bisa dijamin otoritas penulisnya. Jumlah rujukan harus proporsional. Pembahasan kepustakaan harus disajikan secara ringkas, padat, dan langsung mengenai masalah yang diteliti. Aspek yang dibahas dapat mencakup landasan teorinya, segi historisnya, atau segi lainnya. Penyajian latar belakang atau rasional penelitian hendaknya sedemikian rupa sehingga mengarahkan pembaca ke rumusan masalah penelitian yang dilengkapi dengan rencana pemecahan masalah dan akhirnya ke rumusan tujuan. Untuk penelitian kualitatif di bagian ini dijelaskan juga fokus penelitian dan uraian konsep yang berkaitan dengan fokus penelitian.
Banyak jurnal tidak mencantumkan subjudul untuk pendahuluan. Bagian ini terutama berisi paparan tentang permasalahan penelitian, wawasan, dan rencana penulis dalam kaitannya dengan upaya pemecahan masalah, tujuan penelitian, dan rangkluman kajian teoritik yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kadang-kadang juga dimuat harapan akan hasil dan manfaat penelitian.
Penyajian bagian pendahuluan dilakukan secara naratif, dan tidak perlu pemisahan (visi) dari suatu subbagian ke subbagian lain. Pemisahan dilakukan hanya dengan pergantian paragraf.

f. Metode
Bagian ini menyajikan bagaimana penelitian itu dilakukan. Uraian disajikan dalam beberapa paragraf tanpa subbagian atau dipilah-pilah menjadi beberapa beberapa subbagian. Hanya hal-hal yang pokok saja yang disajikan. Uraian rinci tentang rancangan penelitian tidak perlu diberikan.
Materi pokok bagian ini adalah rancangan atau desain penelitian (bagaimana data dikumpulkan), sasaran atau target penelitian (populasi dan sampel) atau siapa sumber data, teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen, dan teknik analisis data (bagaimana data dianalisis). Apabila uraian ini disajikan dalam subbagian, maka subbagian itu antara lain berisi keterangan tentang populasi dari sampel atau subjek, instrumen pengumpulan data, rancangan penelitian (terutama jika digunakan rancangan yang cukup kompleks seperti rancangan eksperimantal), dan teknik analisis data. Sub-subbagian tersebut umumnya (sebaiknya) disampaikan dalam format essei dan sesedikit mungkin menggunakan format enumeratif. 
Penelitian yang menggunakan alat dan bahan perlu ditulis spesifikasi alat dan bahannya. Spesifikasi alat menggambarkan tingkat kecangguhan alat yang digunakan, sedangkan spesifikasi bahan juga perlu diberikan karena penelitian ulang dapat berbeda dari penelitian perdana apabila spesifikasi bahan yang digunakan berbeda.
Untuk penelitian kualitatif perlu ditambahkan perian mengenai kehadiran peneliti, subjek penelitian, dan informan beserta cara-cara menggali data penelilitan, lokasi penelitian, dan lama penelitian. Selain itu juga diberikan uraian mengenai pengecekan keabsahan hasil penelitian.
g. Hasil
Bagian ini merupakan bagian utama artikel ilmiah, dan oleh karena itu biasanya merupakan bagian terpanjang. Bagian ini memuat hasil penelitian, tepatnya hasil analisis data. Hasil yang disajikan adalah hasil bersih. Proses analisis data (seperti perhitungan statistik) tidak perlu disajikan. Proses pengujian hipotesis pun tidak perlu disajikan, termasuk perbandingan antara koefisien yang ditemukan dalam analisis dan hasil pengujian hipotesis.
Penyampaian hasil penelitian dapat dibantu dengan penggunaan tabel dan grafik (atau bentuk/format komunikasi yang lain). Tabel atau grafik harus diberi komentar atau dibahas dalam tubuh artikel. Pembahasan tidak harus dilakukan per tabel atau grafik. Tabel atau grafik digunakan untuk memperjelas penyajian hasil secara verbal.
Penyajian hasi yang cukup panjang dapat dibagi dalam beberapa subbagian. Apabila hasil yang disajikan cukup panjang, penyajian harus dilakukan dengan memilah-milah menjadi subbagian-subbagian sesuai dengan penjabaran masalah penelitian. Apabila bagian ini pendek, bisa digabung dengan bagian pembahasan. Untuk penelitian kualitatif, bagian hasil memuat bagian-bagian rinci dalam bentuk subtopik-subtopik yang berkaitan langsung dengan fokus penelitian.
h. Pembahasan
Bagian ini adalah bagian terpenting dari keseluruhan isi artikel ilmiah. Penulis artikel dalam bagian ini menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dan menunjukkan bagaimana temuan-temuan tersebut diperoleh, menginterpretasikan temuan, mengaitkan temuan penelitian dengan struktur pengetahuan yang telah mapan dan memunculkan ”temuan-temuan” baru atau modifikasi teori yang telah ada. Tujuan pembahasan adalah: (a) menjawab masalah penelitian atau menunjukkan bagaimana tujuan penelitian itu dicapai, (b) menafsirkan temuan-temuan, (c) mengintegrasikan temuan penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang telah mapan, dan (d) menyusun teori baru atau memodifikasi teori yang ada.
Dalam menjawab masalah penelitian atau tujuan penelitian, harus disimpulkan hasil-hasil penelitian secara eksplisit. Misalnya dinyatakan bahwa penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan kognitif anak sampai umur 5 tahun, maka dalam bagian pembahasan haruslah diuraikan pertumbuhan kognitif anak itu sesuai dengan hasil penelitian.
Penafsiran terhadap temuan dilakukan dengan menggunakan logika dan teori-teori yang ada. Misalnya ditemukan adanya korelasi antara kematangan berpikir dengan lingkungan anak, Hal ini dapat ditafsirkan bahwa lingkungan dapat memberikan masukan untuk mematangkan proses kognitif anak. Lingkungan adalah segala sesuatu yang terdapat di sekitar anak, termasuk sekolah sebagai tempat belajar.
Temuan diintegrasikan ke dalam kumpulan pengetahuan yang sudah ada dengan jalan membandingkan temuan itu dengan temuan penelitian sebelumnya, atau dengan teori yang ada, atau dengan kenyataan di lapangan. Perbandingan tersebut harus disertai rujukan.
Jika penelitian ini menelaah teori (penelitian dasar), teori yang lama bisa dikonfirmasi atau ditolak, sebagian atau seluruhnya. Penolakan terhadap sebagian teori harus disertai dengan modifikasi teori, sedangkan penolakan terhadap seluruh teori haruslah disertai dengan rumusan teori baru.
Untuk penelitian kualitatif, bagian ini dapat pula memuat ide-ide peneliti, keterkaitan antara kategori-kategori dan dimensi-dimensi serta posisi temuan atau penelitian terhadap temuan dan teori sebelumnya.


i. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Dari kedua hal ini dikembangkan pokok-pokok pikiran (baru) yang merupakan esensi dari temuan penelitian. Kesimpulan disajikan dalam bentuk essei, bukan dalam bentuk numerikal.
Saran hendaknya dikembangkan berdasarkan temuan penelitian atau disusun berdasarkan kesimpulan yang telah ditarik. Saran dapat mengacu pada tindakan praktis, pengembangan teori baru, dan penelitian lanjutan. Bagian saran bisa berdiri sendiri.
j. Daftar Rujukan
Bagian rujukan harus lengkap dan sesuai dengan rujukan yang disajikan dalam batang tubuh artikel ilmiah. Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam batang tubuh artikel. Demikian pula semua rujukan yang disebutkan dalam batang tubuh harus disajikan dalam daftar rujukan.

B. ARTIKEL NONPENELITIAN/ARTIKEL HASIL PEMIKIRAN
Artikel hasil pemikiran adalah hasil pemikiran penulis atas suatu permasalah, yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Dalam upaya untuk menghasilkan artikel jenis ini penulis terlebih dahulu mengkaji sumber-sumber yang relevan dengan permasalahannya, baik yang sejalan maupun yang bertentangan dengan apa yang dipikirkannya. Sumber-sumber yang  dianjurkan untuk dirujuk dalam rangka menghasilkan artikel hasil pemikiran adalah juga artikel-artikel hasil pemikiran yang relevan, hasil-hasil penelitian terdahulu, di samping teori-teori yang dapat digali dari buku-buku teks.
Bagian paling vital dari artikel hasil penelitian adalah pendapat atau pendirian penulis tentang hal yang dibahas, yang dikembangkan dari analisis terhadap pikiran-pikiran mengenai masalah yang sama yang telah dipublikasikan sebelumnya dan pikiran baru penulis tentang hal yang perlu dikaji jika memang ada. Jadi, artikel hasil pemikiran nukanlah sekadar kulase atau tempelan cuplikan dari sejumlah artikel, apalagi pemindahan tulisan dari sejumlah sumber, tetapi adalah hasil pemikiran analitis dan kritis penulisnya.
Ketentuan untuk penulisan artikel nonpenelitian pada dasarnya berlaku juga untuk penulisan makalah pendek (yaitu makalah yang panjangnya tidak lebih dari 20 halaman), kecuali dalam makalah pendek abstrak dan kata-kata kunci tidak harus ada.
Istilah artikel nonpenelitian mengacu kepada semua jenis artikel ilmiah yang bukan merupakan laporan hasil penelitian. Artikel yang termasuk kategori artikel nonpenelitian antara lain berupa artikel yang menelaah suatu teori, konsep, atau prinsip, mengembangkan suatu model, mendiskripsikan fakta atau fenomena tertentu, menilai suatu produk, dan masih banyak jenis yang lain. Karena beragamnya jenis artikel ini, maka cara penyajiannya di dalam jurnal sangat bervariasi.

1. Isi dan Sistematika
Sebuah artikel nonpenelitian berisi hal-hal yang sangat esensial; karena itu biasanya jumlah halaman yang disediakan tidak banyak (antara 10 – 20 halaman). Unsur pokok yang harus ada dalam artikel nonpenelitian dan sistematikanya adalah: (1) judul artikel, (2) nama penulis, (3) abstrak dan kata kunci, (4) pendahuluan, (5) bagian inti, (6 penutup, dan (7) daftar rujukan.

a.Judul
Judul artikel sebagai label yang mencerminkan secara tepat inti isi yang terkandung dalam artikel. Untuk itu, pemilihan kata yang dipakai dalam judul artikel hendaknya dilakukan secara cermat. Di samping aspek ketepatannya, pilihan kata untuk judul perlu juga mempertimbangkan pengaruhnya terhadap daya tarik judul bagi pembaca. Judul artikel sebaiknya terdiri atas 5 – 15 kata.
Judul artikel hasil pemikiran hendaknya mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas. Pilihan kata-kata harus tepat, mengandung unsu-unsur utama maslah, jelas, dan setelah disusun dalm bentuk judul harus memiliki daya tarik yang cukup kuat bagi calon pembaca. Judul dapat ditulis dalam bentuk berita atau kalimat tanya. Salah satu ciri penting judul artike hasil pemikiran adalah ”provokatif”, dalam arti merangsang pembaca untuk membaca artikel yang bersangkutan. Hal ini penting karena artikel hasil pemikiran pada dasarnya bertujuan untuk membuka wacana diskusi argumentasi, analisis, dan sintesis pendapat-pendapat para ahli atau pemerhati bidang tertentu.
Perhatikan judul-judul artikel di bawah ini, dan lakukan evaluasi terhadap judul-judul tersebut untuk melihat apakah kriteria yang tersebut di atas terpenuhi.
·         Membangun Teori melalui Pendekatan Kualitatif (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7, No. 1)
·         Repelita IV: Cautious Development Plan for Steady Growth (Kaleidoscope International Vol. IX No.1)
·         Interpreting Student’s and Teacher’s Discourse in Science Classes: An Underestimated Problem? ( Journal of Research in Science Teaching Vol. 33, No. 2 ).
Di dalam contoh-contoh judul di atas seharusnya tercermin ciri-ciri yang diharapkan ditunjukkan oleh artikel hasil pemikiran seperti provokatif, argumentatif, dan analitik.
b. Nama Penulis
Untuk menghindari bias terhadap senioritas dan wibawa atau inferioritas penulis, nama penulis artikel tanpa disertai gelar akademik atau gelar profesional yang lain. Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan boleh disertakan. Nama lembaga tempat penulis bekerja ditulis sebagai catatan kaki di halaman pertama. Jika penulis lebih dari 2 orang, hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan di bawah judul disertai tambahan dkk. (dan kawan-kawan). Nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki atau di dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki tidak mencukupi.
c. Abstrak dan Kata Kunci
Untuk artikel nonpenelitian, abstrak berisi ringkasan dan isi artikel yang dituangkan secara padat, bukan komentar atau pengantar dari penyunting atau redaksi. Panjang abstrak 50 – 75 kata dan ditulis dalam satu paragraf. Abstrak diketik dengan spasi tunggal dengan menggunakan format yang lebih sempit dari teks utama (margin kanan dan kiri menjorok masuk 1,2 cm).
Dengan membaca abstrak diharapkan calon pembaca segera memperoleh gambara umum dari masalah yang dibahas dalam artikel. Ciri-ciri umum hasil pemikiran seperti kritis dan provokatif hendaknya juga sudah terlihat dalam abstrak ini sehingga calon pembaca tertarik untuk meneruskan pembacannya.
Abstrak hendaknya juga disertai dengan 3-5 kata kunci, yaitu istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait dengan ranah permasalahan yang dibahas dalam artikel, atau kata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang diteliti atau istilah-istilah yang merupakan dasar pemikiran gagasan dalam karangan asli, berupa kata tunggal atau gabungan kata. Jumlah kata kunci antara 3 – 5 buah. Jika dapat diperoleh, kata-kata kunci hendaknya diambil dari tesaurus bidang ilmu terkait. Perlu dicatat bahwa kata-kata kunci tidak hanya dapat dipetik dari judul artikel, tetapi juga dari tubuh artikel walaupun ide-ide atau konsep-konsep yang diwakili tidak secara eksplisit dinyatakan atau dipaparkan di dalam judul atu tubuh artikel. Kata kunci diperlukan untuk komputerisasi sistem informasi ilmiah. Dengan kata kunci dapat ditemukan judul-judul penelitian beserta abstraknya dengan mudah.
d. Pendahuluan
Bagian pendahuluan artikel nonpenelitian berisi uraian yang mengantarkan pembaca kepada topik utama yang akan dibahas. Bagian ini menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatian pembaca dan memberikan acuan (konteks) bagi permasalahan yang akan dibahas misalnya dengan menonjolkan hal-hal yang kontroversial atau belum tuntas dalam pembahasan permasalahan terkait dalam artikel-artikel atau naskah-naskah lain yang telah dipublikasikan terdahulu. Oleh karena itu, isi bagian pendahuluan menguraikan hal-hal yang mampu menarik pembaca sehingga mereka ”tergiring” untuk mendalami bagian selanjutnya. Selain itu, bagian pendahuluan hendaknya diakhiri dengan rumusan singkat (1 – 2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas. Bagian pendahuluan tidak diberi judul.
e. Bagian Inti
Judul, judul bagian, dan isi bagian inti sebuah artikel nonpenelitian sangat bervariasi, lazimnya berisi kupasan, analisis, argumentasi, komparasi, keputusan, dan pendirian atau sikap penulis mengenai masalah yang dibicarakan, tergantung pada topik yang dibahas. Hal yang perlu mendapat perhatian pada bagian inti adalah pengorganisasian isinya. Uraian yang lebih rinci mengenai cara pengorganisasian isi dibahas pada paparan berikutnya.
Banyaknya subbagian juga tidak ditentukan, tergantung kepada kecukupan kebutuhan penulis untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. Di antara sifat-sifat artikel terpenting yang seharusnya ditampilkan di dalam bagian ini adalah kupasan yang argumentatif, analitik, dan kritis dengan sistematika yang runtut dan logis, sejauh mungkin dengan berciri komparatif dan menjauhi sifat tertutup dan instruktif. Walaupun demikian perlu dijaga agar tampilan bagian ini tidak terlalu panjang dan menjadi bersifat enumeratif seperti diktat. Penggunaan subbagian-subbagian yang terlalu banyak juga akan menyebabkan artikel tampil seperti diktat.

f. Penutup
Istilah penutup dipakai sebagai judul bagian akhir dari sebuah artikel nonpenelitian, jika isinya hanya berupa catatan akhir atau yang sejenisnya. Jika uraian pada bagian akhir berisi kesimpulan hasil pembahasan pada bagian sebelumnya, perlu dimasukkan pada bagian kesimpulan. Kebanyakan artikel nonpenelitian membutuhkan kesimpulan. Ada beberapa artikel nonpenelitian yang dilengkapi dengan saran. Sebaiknya saran ditempatkan dalam bagian tersendiri.
Penutup biasanya diisi dengan simpulan atau penegasan pendirian penulis atau masalah yang dibahs pada bagian sebelumnya. Banyak juga penulis yang berusaha menampilkan segala apa yang telah dibahas dibagian terdahulu, secara ringkas. Sebagian penulis mnyertakan saran-saran atau pendirian alternatif. Jika memang dianggap tepat bagian terakhir ini dapat disajikan dalam subbagian tersendiri.
g. Daftar Rujukan
Bahan rujukan yang dimasukkan dalam daftar rujukan hanya yang benar-benar dirujuk di dalam tubuh artikel. Jadi, bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam batang tubuh artikel. Karena itu, Daftar rujukan harus lengkap, mencakup semua bahan pustaka yang telah disebutkan dalam batang tubuh artikel.
Sebaliknya, semua rujukan yang telah disebutkan dalam tubuh artikel harus tercatat di dalam daftar rujukan. Penulisan daftar rujukan dilakukan pada halaman terakhir artikel, tidak pada halaman baru. Tata aturan penulisan daftar rujukan bervariasi, tergantung gaya selingkung yang dianut. Walaupun demikian, harus senantiasa diperhatikan bahwa tata aturan ini secara konsisten didiikuti dalam setiap nomor penerbitan.

2. Pengorganisasian Isi
Pengorganisasian isi mengacu kepada cara penataan urutan isi yang akan dipaparkan dalam artikel. Isi yang dimaksud dapat berupa fakta, konsep, prosedur, atau prinsip. Tipe isi yang berbeda memerlukan penataan urutan yang berbeda, tergantung pada struktur isinya.
Berikut ini adalah langkah yang perlu dilewati untuk menghasilkan pengiorganisasian isi artikel yang baik: (1) mengidentifikasi tipe isi yang akan dideskripsikan dalam artikel, (2) menetapkan struktur isi, (3) menata isi ke dalam strukturnya, (4) menata urutan isi, dan (5) mendeskripsikan isi mengikuti urutan yang telah ditetapkan.
Mengidentifikasi tipe isi yang akan dideskripsikan dalam artikel merupakan langkah paling awal. Isi yang dimaksud perlu dikaji secara cermat apakah berupa konsep, prosedur, atau prinsip. Tipe isi dikatakan konsep apabila menekankan uraian tentang ”apanya”, tipe isi prosedur menekankan ”bagaimana”, dan tipe isi dikatakan prinsip apabila menekankan ”mengapa”.
Menetapkan struktur isi merupakan langkah lanjutan setelah penetapan tipe isi. Struktur isi mengacu kepada kaitan antarisi. Penataan isi artikel perlu memperhatian struktur isinya. Dari struktur isi akan dapat diketahui isi mana yang selayaknya diuraikan lebih dulu dan isi mana yang diuraikan kemudian, serta seberapa dalam setiap isi perlu diuraikan.
Tipe isi yang berbeda menuntut struktur isi yang berbeda. Apabila isi yang akan diuraikan dalam artikel berupa konsep-konsep, maka isi ini sebaiknya ditata ke dalam struktur konseptual. Apabila isi yang akan diuraikan berupa prosedur, maka penataannya menuntut penggunaan struktur prosedural. Apabila isi yang akan diuraikan berupa prinsip, tatanan prinsip-prinsip itu ditata ke dalam struktur teoretik.
Langkah ketiga adalah menata isinya ke dalam strukturnya. Apabila hasil langkah kedua ternyata mengarah ke pembuatan struktur konseptual, maka langkah berikutnya adalah memilih semua konsep penting yang akan diuraikan dan manatanya menjadi suatu struktur yang bermakna, yang secara jelas menunjukkan keterkaitan antarkonsep itu.
Langkah keempat adalah menata urutan isi. Penataan ini dilakukan berpijak pada struktur yang telah dibuat pada langkah ketiga. Pada langkah ini semua konsep atau prosedur, atau prinsip yang telah dimasukkan dalam strukturnya ditata urutan pemaparannya. Beberapa ketentuan penataan urutan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
Pertama, paparkan struktur isi, sedapat mungkin pada bagian paling awal dari artikel. Struktur isi yang memuat bagian-bagian penting artikel dan kaitan-kaitan antarbagian itu perlu dipaparkan pada bagian awal untuk dijadikan kerangka acuan paparan isi yang lebih rinci.
Kedua, Paparkan bagian isi terpenting di bagian pertama. Pada tahap pemaparan isi yang diambil dari suatu struktur, upayakan memaparkan isi yang paling penting pertama kali. Penting tidaknya bagian isi ditentukan oleh sumbangannya untuk memahami keseluruhan isi artikel. Misalnya, jika konsepkonsep yang akan dipaparkan memiliki hubungan prasyarat belajar, maka konsep-konsep yang mempersyarati sebaiknya dipaparkan terlebih dulu.
Ketiga, sajikan isi secara bertahap dari umum ke rinci. Isi yang lebih umum sebaiknya disajikan mendahului isi yang lebih rinci. Selain itu, setiap paparan suatu bagian isi sebaiknya selalu ditunjukkan kaitannya dengan bagian isi yang lain.
Setelah melewati keempat langkah tersebut, penulis artikel tinggal membuat paparan isi sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam memaparkan isi upayakan menggunakan tahapan tingkat umum ke rinci secara bertahap. Dengan cara ini, tingkat sajian yang lebih umum akan menjadi pijakan bagian sajian isi yang lebih rinci.

Contoh PTK Bahasa Inggris

BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang

            Secara umum Pembelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis.
            Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
            Pemerintah pusat telah menentukan standar kompetensi (SK) yang harus dimiliki oleh siswa.  Ada macam 4 SK yang harus dimiliki oleh siswa, yaitu kompetensi mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. SK yang cakupan materinya masih bersifat umum ini kemudian dijabarkan dalam sejumlah kompetensi minimum atau yang lebih dikenal dengan istilah kompetensi dasar (KD).  Salah satu KD yang merupakan jabaran dari SK, kemampuan menulis yang harus dikuasai siswa adalah kemampuan menulis Teks Deskriptif  (Depdiknas, 2006).
            Banyak yang mengatakan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris tidak berhasil.  Salah satu sebab kegagalan ini adalah budaya pengajaran di kelas yang kita miliki tidak kondusif untuk menunjang proses pembelajaran.  Di dalam kelas murid dituntut untuk duduk manis, mendengarkan guru secara seksama dan mematuhi semua keterangannya.  Guru adalah merupakan satu-satunya orang yang dianggap mengetahui segala sesuatu dan oleh karena itu, dia mendominasi kegiatan di kelas.  Ditambah lagi keadaan kualitas guru yang masih kurang bagus kualitas kerjanya, dimana semua itu tidak dapat dilepaskan dari manajemen pendidikan.  Oleh karena itu, program peningkatan kualitas guru dalam melaksanakan PBM (proses belajar mengajar), harus menjadi sesuatu yang utama disekolah disamping tiga aspek yang lain, yaitu kemampuan, semangat kerja dan dedikasi dan aspek kesejahteraan (Zamroni, 2000:120).  Jika budaya semacam ini masih dipertahankan, niscaya usaha apapun yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kwalitas pendidikan akan sia-sia.
            Sejauh ini sudah cukup banyak tulisan-tulisan di media massa yang secara terbuka mempertanyakan mengapa pelajaran menulis dianaktirikan di negeri ini (Marahimin, 2001: 16).  Pelajaran menulis rasanya tidak diberikan di sebagian besar sekolah-sekolah kita, mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.  Pelajaran menulis hanya diberikan teori-teorinya saja, itupun ada yang tidak sejalan dengan metode pengajaran menulis.  Selain itu, buku-buku pegangan dan buku teks pelajaran menulis bagi siswa memang masih langka, untuk tidak mengatakan belum ada sama sekali.
            Kurikulum terbaru yang sedang dikembangkan saat ini yaitu kurikulum 2006/KTSP lebih menuntut seorang guru untuk berbuat maksimal mengadakan reformasi dalam pembelajarannya.
Selanjutnya timbul pertanyaan strategi pembelajaran apa yang relevan dengan KTSP?  Maka paling tidak seorang guru harus paham tentang strategi pembelajaran
Contextual Teaching and Learning (CTL), Quantum Teaching-Learning dan juga
Pembelajaran PAKEM ( Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) dimana Chain Writing adalah salah satu pilihan.
            Diberlakukannya kurikulum 2006 merupakan hal yang sangat mengembirakan bagi pelajaran menulis, karena menulis mendapatkan porsi seimbang dengan empat kemampuan berbahasa yang lainnya tak terkecuali pelajaran menulis Teks Deskriptif.
            Akan tetapi  pembelajaran menulis Teks Deskriptif Siswa Kelas VII di SMPN 2 Gending masih menemui banyak kendala.  Kendala tersebut  tampak karena: (1) pembelajaran menulis oleh sebagian besar guru kelas masih dianggap tidak terlalu penting, (2) keterbasan sebagian guru dalam pengetahuan  menulis.  Kendala  itu bertambah lagi ketika mengetahui pembelajaran menulis Teks Deskriptif  dalam kurikulum 2006 merupakan salah satu KD di kelas VII.
            Ditemukan di beberapa sekolah, pembelajaran menulis dengan model pemberian tugas tanpa arah yang jelas.  Setelah menerangkan unsur-unsur menulis (bahkan sebagian guru tidak menerangkan sebelumnya), guru lalu menugasi siswa untuk menulis.  Ketika siswanya bertanya, ”Bagaimana caranya, Bu?”  Guru itu menjawab ”Terserah anak-anak.”  Ada juga guru menjawab, ”Tulislah berdasarkan kemampuan penguasaan kosa kata yang kamu miliki.”  Namun ketika siswa berkomentar ”Saya tidak bisa , Bu...”, guru pun seperti kehabisan akal.  Dalam keadaan seperti itu, guru pun ganti menekan siswanya untuk menulis apa saja tanpa banyak berkomentar.  Akhirnya siswa belajar menulis Teks Deskriptif dengan perasaan ’tersiksa’ dan ’terbebani’.  Perasaan semacam itu akan terus berulang setiap kali guru masuk dan menagih hasil tulisan siswanya.
            Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini berusaha untuk mencari bentuk pembelajaran menulis Teks Deskriptif  yang tidak ’menyiksa, tidak ’membebani’, tetapi yang ’menyenangkan’, yang dapat dinikmati siswa maupun guru, yang bisa meningkatkan kerjasama/gotong royong, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, yaitu pembelajaran menulis Teks Deskriptif dengan menggunakan strategi Chain Writing.
            Kembali pada variasi metode mengajar dan keluwesan dalam penerapan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi murid terutama dalam pembelajaran PAKEM, Chain Writing merupakan salah satu pilihan.  Chain Writing adalah sebuah game yang menciptakan kolaborasi pertukaran pikiran, perasaan, dan ide antara beberapa orang yang menyebabkan efek yang sepadan pada masing-masing individu (Brown, 1994)
            Sebuah laporan penelitian efek dari Chain Writing diantara murid-murid sekolah menengah (Lampe, 1996) mengindikasikan bahwa game ini meningkatkan pencapaian nilai siswa, menimbulkan rasa percaya diri, dan memperbaiki hubungan sesama teman.  Penulis yakin, teknik ini akan sesuai untuk setting/keadaan siswa di Indonesia karena perasaan orang Indonesia pada umumnya suka gotong royong dan bekerjasama dari pada sifat individual dan suka berkompetisi/persaingan.
            Berdasarkan uraian di atas dan agar supaya penelitian ini menjadi terarah, maka fokus tulisan ini dikhususkan pada penerapan Chain Writing dalam pengembangan kemampuan menulis Teks Deskriptif berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan  pilihan kata dan penggunaan ejaan.
           
1.2    Perumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang masalah, ada satu masalah yang ingin ditetapkan oleh penulis sebagai masalah utama dalam karya tulis ini yaitu:
1.      Apakah Metode Chain Writing dapat meningkatkan kemampuan menulis Teks Deskriptif pada siswa kelas VIIA Semester II SMPN 2 Gending Tahun Pelajaran 2008-2009?
2.      Bagaimana Peningkatan Kemampuan Siswa dalam menulis Teks Deskriptif dengan Metode Chain Writing siswa kelas VIIA Semester II di SMPN 2 Gending Tahun Pelajaran 2008-2009 ?


1.3 Cara Pemecahan Masalah
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Inggris merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa Inggris. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik  untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. 
      Dengan  standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Inggris  ini diharapkan:
(1) peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya,; (2) guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar; (3) guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
            Meskipun guru memiliki kewenangan penuh untuk menyusun skenario/rencana praktek pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar, pengamatan awal di SMPN 2 Gending Siswa Kelas VIIA Semester II  Tahun Pelajaran 2008-2009 mengindikasikan bahwa beberapa guru masih menghadapi permasalahan.  Oleh karena itu, melalui penelitian dalam karya tulis ini,  penulis sekaligus peneliti berusaha menyajikan alternatif pembelajaran menulis karangan yang PAKEM (Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) yaitu metode Chain Writing yang sebaiknya  dilaksanakan di luar kelas.
            Aktivitas siswa dalam pembelajaran ini ditandai dengan semua siswa terlibat dalam penulisan.  Kreativitas siswa dapat dilihat dari kegiatan menuliskan kembali cerita yang didengar/dilihat. Efektivitas pembelajaran ini dapat dilihat dari proses interaksi belajar mengajar dan produk yang dihasilkan dari pembelajaran.  Efektivitas yang pertama dapat dilihat dari keterlibatan siswa secara serius, hadir, senang, menikmati dan tidak merasa tersiksa atau terbebani saat pembelajaran berlangsung.  Efektifitas yang kedua dapat dipantau dari  hasil pembelajaran yang menggambarkan kemampuan siswa dalam hal memilih kata ( diction), menggunakan ejaan (spelling), keterkaitan antar kalimat (coheren) dan membuat struktur kalimat ( grammar) dengan benar.
            Pembelajaran ini juga menyenangkan siswa karena dimulai dengan guru membacakan Teks Deskriptif, disamping kegiatan ini dilakukan di luar kelas.   

1.4 Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan
1.      Menggunakan Metode Chain Writing untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Deskriptif Siswa Kelas VIIA Semester II SMPN 2 Gending Tahun Pelajaran 2008-2009.
2.      Mengetahui peningkatan kemampuan  siswa dalam menulis Teks Deskriptif dengan Metode Chain Writing pada siswa kelas VIIA Semester II SMPN 2 Gending Tahun Pelajaran 2008-2009.


1.5  Definisi Istilah
            Untuk menghindari salah interpretasi, istilah-istilah penting dalam karya tulis ilmiah ini didefinisikan sebagai berikut:
a.       Pembelajaran: adalah proses belajar mengajar pelajaran Bahasa Inggris terutama untuk kompetensi menulis.
b.      Chain Writing: salah satu motode pembelajaran menulis yang dilaksanakan berkelompok dan berlari secara bergantian (lihat lampiran)
c.       Kemampuan Menulis Teks Deskriptif : adalah kemampuan menulis  dengan menjabarkan sesuatu  baik berupa benda, tempat atau orang.

1.6  Manfaat Penelitian
            Manfaat yang dapat diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
(1)    Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi teori pembelajaran Bahasa Inggris, khususnya pembelajaran menulis Teks Deskriptif.
(2)    Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh guru bahasa Inggris di Madrasah Tsanawiyah sebagai alternatif memecahkan masalah pembelajaran menulis Teks Deskriptif.  Dan oleh siswa, diharapkan hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai petunjuk praktis, konkret, dan operasional dalam menulis Teks Deskriptif.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
 2.1.   Landasan Teori
            Pada Zaman dahulu di Cina, orang yang ingin menjadi pelukis akan diberi contoh lukisan yang sudah jadi dan baik, yang mana lukisan tersebut dibuat oleh seorang master, yaitu seorang ahli melukis yang sudah terkenal.  Sang calon pelukis disuruh meniru lukisan master tadi sampai sebisa-bisanya, semirip mungkin.  Sesudah sepuluh-dua puluh kali mencoba, sang murid akan mendapatkan sebuah master baru untuk ditiru.  Begitulah seterusnya sampai sang calon pelukis itu bisa melukis sendiri, dan mulai menemukan bentuk yang khas yang sesuai dengan kepribadiannya.  Metode ini dinamakan Copy the Master, yang artinya menirukan tulisan seorang ahli (Marahimin, 2001:21). 
            Lain di Cina, lain pula di Barat.  Kata orang kalau kita belajar melukis cara Barat, kita belajar mulai dari garis dan bentuk dulu, kemudian anatomi, perspektif, warna, dan sebagainya menurut urutan-urutan yang sesuai dengan pendirian guru yang mengajar.
            Pembelajaran menulis karangan pun mengenal kedua metode itu, yaitu melalui kaidah-kaidah yang disuruh hafalkan, dan copy the master.  Belajar menulis karangan melalui kaidah-kaidah menurut hemat penulis adalah ibarat belajar berenang di darat, dan juga cara copy the master yang justru mematikan kreativitas siswa.
            Tujuan orang menulis  adalah untuk menjelaskan dan melaporkan responnya atas suatu pengalaman yang menarik, menyenangkan atau menyedihkan dalam hidup ini (Barnet, 1979:  27).  Sesuatu pengalaman yang menarik, menyenangkan ataupun menyedihkan itu bisa berbentuk sesuatu yang bisa dilihat, didengar, dirasakan, maupun dalam bentuk yang lain.  Berangkat dari pemikiran inilah, memperdengarkan karangan atau menayangkan cerita pengalaman adalah merupakan sumber pembelajaran menulis yang sangat efektif.

2.2.Metode Chain Writing
            Sebuah penelitian yang diadakan oleh Cohen (1994) dari Stanford University, dengan judul:  Restructuring the Classroom, telah sampai pada kesimpulan bahwa kelompok kerja semacam Chain Writing bisa diterima sebagai metode dalam mencapai peningkatan tujuan pembelajaran.  Cara seperti ini menghasilkan pemerolehan belajar, pengembangan daya pikir yang lebih tinggi, perkembangan periulaku sosial, cara mengadakan interaksi dan merupakan sebuah cara untuk memanage keheterogenan akademis dalam kelas.
            Secara teori, Chain Writing adalah dikerjakan dalam kelompok-kelompok yang akan memberikan kesempatan istimewa pada siswa siswi untuk aktif menulis (Nystrand, 1986), adalah merupakan teknik yang direkomendasikan dalam rekonstruksi sekolah (Newmann, 1986).  Teknik kelompok ini juga secara luas direkomendasikan sebagai cara memperoleh derajat rasa persamaan dalam kelas (Oakes and Lipton,  1990).  Manfaat dari Chain Writing yang dilaksanakan secara berkelompok ini adalah tersedianya peningkatan kesempatan komunikasi yang besar sesama siswa (Kerr, 1985)
            Barness dan Todd (1977) menyimpulkan bahwa belajar secara berkelompok lebih efektif dari cara atau teknik yang lain.  Dibanding dengan metode yang lain, kompetisi dan individual, teknik bekerja secara berkelompok mempunyai nilai lebih (Johnson, 1984).  Dalam teknik kompetisi, murid bekerja berlawanan dengan yang lain dengan tujuan mencapai sesuatu yang hanya bisa diperoleh oleh seorang siswa, yaitu juara 1.  Tentu saja tujuan ini tercapai kalau saja dan jika saja siswa yang lain gagal.  Sehingga hanya beberapa siswa saja yang aktif karena mereka mengira hanya merekalah yang bisa mencapai tujuan itu, sementara sebagian besar siswa yang lain hanya ogah-ogahan karena mereka yakin tidak memperoleh kesempatan sebagai juara 1.
            Secara singkat perbedaan antara metode Chain Writing dengan teknik tradisional adalah:
Chain Writing
Tradisional
  • kerja sama
  • persamaan individu
  • heterogen
  • pembagian kepemimpinan
  • pembagian tanggung jawab pada masing-masing individu
  • ditekankan pada tugas dan penyelesaiannya
  • ketrampilan bersosialisasi diperoleh langsung
  • guru sebagai fasilitator

  • grup memproses keaktifannya
  • tanpa kerjasama
  • tanpa persamaan individu
  • homogen
  • tanpa pembagian kepemimpinan
  • tanggung jawab hanya ada pada diri pribadi
  • ditekankan pada tugas individu saja

  • ketrampilan bersosialisasi diabaikan

  • guru sebagai pusat pembelajaran (teacher centered)
  • tanpa proses gruping

            Adapun strategi pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan Chain Writing ini adalah sebagai berikut:  
(1)     Menyediakan kertas plano, marker (spidol), selotip, dan gunting.
(2)     Menyiapkan naskah/teks yang berisi Teks Deskriptif  .
(3)     Memperdengarkan/mempertunjukkan kepada siswa Teks Deskriptif .
(4)     Meminta siswa untuk memusatkan pikiran dan memperhatikan Deskriptif Teks dengan baik-baik.
(5)     Mengamati dan merumuskan secara bersama penulisan Teks Deskriptif .
(6)     Memberi penjelasan tentang karangan yang baik yaitu menggunakan pemilihan kata-kata yang tepat ,  penggunaan ejaan yang benar, keterkaitan antara kalimat sebelum dan sesudahnya yang harus nyambung, dan adanya kalimat penutup yang bagus.
(7)     Membagi kelas menjadi lima  kelompok, yang masing-masing kelompok beranggotakan 7 siswa. Dan ada satu kelompok yang beranggotakan 6 orang (Karena jumlah siswa adalah 34 orang).
(8)     Menempel kertas plano yang telah diawali dengan tulisan frasa pembuka, di dinding.
(9)     Mempersilahkan kelima kelompok untuk mengambil jarak sekitar 5 meter, dengan cara berbaris berbanjar pada masing masing kelompok yang telah ditentukan.
(10) Memulai Chain Writing.
(11) Menilai bersama sama hasil menulis Teks Deskriptif .
(12)  Mengadakan refleksi secara bersama-sama.

    Pembelajaran ini disebut Chain Writing karena fokusnya adalah menulis secara berantai.

2.3.Deskriptif Text
       Ada beberapa jenis teks yang harus dicapai dalam Kompetensi Dasar khususnya aspek menulis (writing) oleh siswa kelas VII .Salah satu jenis teks tersebut adalah Teks Deskriptif. Teks Deskriptif  adalah wacana/ bacaan yang mendiskripsikan sesuatu, orang atau tempat ( Larson,1984 : 366 ) .
       Dengan menguasai Teks Deskriptif siswa diharapkan dapat menjabarkan karakteristik dari suatu benda, orang atau tempat. Kompetensi siswa dalam hal menulis akan semakin berkembang dengan menggunakan kemampuan kosa kata yang mereka miliki.
      Untuk mencapai kompetensi ini salah satu strategi yang dipakai adalah strategi Chain Writing, di mana siswa dituntut kreatif di dalam kelompok untuk menghasilkan teks deskriptif.

















BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Obyek dan Setting Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 2 Gending, Jln. Raya Sumberkerang Gnding. Penelitian dilakukan pada siswa kelas VII semester II. Penelitian ini akan dilakukan dalam jangka waktu dua hari terhitung dari 01 s.d. 02 Juni 2009.
           
3.2. Pendekatan Penelitian
            Penelitian ini mengandung tindakan yaitu meningkatkan kualitas pembelajaran menulis karangan menggunakan Chain Writing.  Oleh karena penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan jenis Deskriptif Kualitatif.

3.3 Prosedur Penelitian
            Proses penelitian ini merupakan siklus-siklus sebagaimana dinyatakan Kemmis dan Mc Taggart (1992) yang diawali dengan mengembangkan perencanaan, melakukan tindakan sesuai rencana, melakukan observasi terhadap tindakan, dan melakukan refleksi.  Refleksi merupakan tahap perenungan terhadap perencanaan kegiatan tindakan dan kesuksesan yang diperoleh.  Sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan (Zuriah,  2001: 59), setiap tindakan dan siklusnya selalu bersifat partisipatoris dan kolaboratif.
            Berdasarkan prinsip-prinsip penelitian tindakan (action research), prosedur penelitian ini melalui langkah-langkah sebagai berikut:
 (1) Penyusunan Rencana Tindakan
            Rencana tindakan yang dilakukan dimulai dari perumusan rancangan tindakan strategi pembelajaran menulis teks deskriptif:
1)      Menyusun rancangan tindakan berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang meliputi tujuan pembelajaran, memilih dan menetapkan materi pembelajaran, menetapkan kegiatan belajar-mengajar, memilih dan menetapkan sumber/bahan/alat pembelajaran yaitu berupa naskah yang berisi tentang karangan deskriptif, dan menyusun evaluasi.
2)      Menyusun indikator, deskriptor, dan kriteria keberhasilan pembelajaran menulis teks deskriptif menggunakan Chain Writing.
3)      Menyusun observasi sebagai alat perekam data, pedoman wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi.
4)      Melakukan pengecekan terhadap RPP, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran menulis karangan yang dilakukan oleh guru.

(2) Pelaksanaan Tindakan (Siklus I)
            Kegiatan pelaksanaan tindakan dilakukan dalam siklus-siklus: siklus I, siklus II, dst.  Setiap siklus dimulai dengan memperdengarkan teks deskriptif.  Fokus tindakan berupa pada setiap siklus untuk menulis Teks Deskriptif dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Tabel 3.3  Pelaksanaan Kegiatan Guru Pada Tahap Pembelajaran

Tahap Pembelajaran
Fokus Pembelajaran
Prosedur Pembelajaran
Tindakan
Pra Menulis
1. Memperdengarkan    deskriptif teks “My neighbour”

1. Memberi contoh teks deskriftif
2. Mendiskusikan teks deskriptif

1. Menyiapkan karangan/cerita deskriptif
2. Memperdengarkan karangan /menayangkan cerita tersebut

Proses Menulis
2. Meningkatkan kemampuan menulis karangan berdasarkan pengamatan
3. Mengembangkan kemampuan menulis karangan berdasarkan pengamatan dengan memperhatikan  pilihan kata dan penggunaan ejaan yang baik dan benar
3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan menulis karangan berdasarkan pengamatan siswa terhadap sesuatu, seseorang atau tempat menggunakan strategi Chain Writing.

3. Memulai Chain Writing
Pasca Menulis
4. Membaca karangan yang telah ditulis
5. Mengadakan penilaian/koreksi bersama
6. Refleksi
4. Pembacaan karangan yang telah selesai
5. Koreksi bersama
4. Meminta wakil dari kelompok untuk membacakan hasil karangan
5. Mengadakan koreksi dan evaluasi bersama




(3) Observasi dan Evaluasi
              Pada saat tindakan dilaksanakan, observasi dan evaluasi dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung sehingga diharapkan dapat mengidentifikasi masalah dan hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan Chain Writing.  Berdasarkan refleksi hasil tindakan pada siklus I, peneliti membuat kesimpulan sebagai dasar untuk pelaksanaan tindakan siklus II, lalu dilaksanakan refleksi pelaksanaan tindakan siklus II dan seterusnya sehingga dapat mencapai hasil sesuai dengan rencana pelaksanaan tindakan.  Hasil kegiatan refleksi setiap tindakan digunakan untuk menyusun simpulan terhadap hasil tindakan I, dan II.
(4) Tahap Refleksi
Refleksi dilakukan setiap satu tindakan berakhir.  Dalam tahap ini peneliti mengadakan perenungan terhadap tindakan yang baru dilakukan.  Hal-hal yang direnungkan meliputi (1) pelaksanaan kegiatan pada tahap pembelajaran, (2) keberhasilan mengajar, (3) pencapaian keberhasilan siswa.  Semua kegiatan ini tergambar melalui kegiatan telaah analisis, sintesis, pemahaman, dan solusi.
(5) Tindakan siklus II
Pelaksanaan tindakan siklus II ini berfokus pada hasil refleksi siklus I.  Kegiatan analisis dan observasi II dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.  Kegiatan siklus II ini akan menjadi bahan refleksi siklus II.

3.4 Data Penelitian
            Data penelitian ini berupa hasil pengamatan, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi yang berupa karangan hasil pembelajaran.  Rincian data berkaitan dengan kegiatannya adalah sebagai berikut ini:
(1)   perencanaan, yaitu berupa RPP, pemilihan media, dan perencanaan evaluasi;
(2)   pelaksanaan, berkaitan dengan perilaku guru dan siswa yang meliputi interaksi belajar mengajar antara guru-siswa, siswa-siswa, dan siswa-guru dalam pembelajaran menulis karangan berdasarkan pengalaman mulai dari pra menulis, proses menulis, dan pasca menulis;
(3)   evaluasi, baik yang berupa evaluasi proses maupun evaluasi hasil;
(4)   hasil produk berupa karangan teks deskriptif.

3.5 Sumber Data
            Sumber data dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, siswa kelas VII SMPN 2 Gending dan guru Bahasa Inggris SMPN 2 Gending.  Siswa kelas VII SMPN 2 Gending  dipilih sebagai  sumber data dalam penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa berdasarkan standar isi kurikulum 2006, siswa kelas VII  harus memiliki kemampuan menulis karangan teks deskriptif  dengan memperhatikan  pilihan kata dan penggunaan ejaan.



3.6  Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
Data penelitian dikumpulkan dengan mengunakan catatan lapangan, wawancara, dan penugasan yang menghasilkan produk berupa karangan.  Masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut.
(1)   Catatan Lapangan
Catatan lapangan merupakan teknik pengumpulan data yang paling praktis dan mudah dilaksanakan kapan saja dan dimana saja.  Pencatatan ini dilakukan untuk mencatat tindakan praktis sewaktu pembelajaran.  Hal-hal yang dicatat mengacu pada guru dan siswa yang diteliti.  Disamping itu, catatan lapangan dapat berupa catatan reflektif yang diperkaya.
(2)   Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati tempat berlangsungnya pembelajaran menulis karangan.  Dengan berpedoman pada lembar observasi, peneliti mengamati apa yang terjadi dalam proses pembelajaran.  Butir-butir yang menjadi sasaran pengamatan diberi tanda cawang bila muncul.
(3)   Wawancara
Wawancara dipergunakan untuk memperkuat data observasi yang terjadi dikelas dari unsur guru dan siswa.
(4)   Data Produk
Data produk yaitu berupa karya tulisan berbentuk karangan hasil pembelajaran yang dibuat oleh siswa.  Berdasarkan data ini dapat diketahui apakah pembelajaran menulis karangan deskriptif tergolong efektif ataukah sebaliknya.

3.7  Penyajian dan Teknik Analisis Data
Analisis data penelitian ini dilakukan dengan mengikuti alur analisis data yang dikembangkan oleh Miles dan Hubberman (1992:  15-20).  Kegiatan analisis dimulai dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi.
(1)   Reduksi Data
Kegiatan pada tahap ini adalah mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan melakukan pengkodean terhadap data.  Kegiatan mereduksi ini dipusatkan pada karangan itu sendiri, apakah sudah menggunakan pemilihan kata-kata dan ejaan yang sesuai dan baik.
Reduksi data juga difokuskan pada kegiatan perencanaan, kegiatan pelaksanaan tindakan, dan data selama kegiatan evaluasi
(2)   Penyajian Data
Hasil dari kegiatan reduksi data disajikan dalam klasifikasi-klasifikasi berdasarkan kriteria-kriteria tertentu sehingga memberikan gambaran yang mengarah pada pemerolehan jawaban atas masalah penelitian.
(3)   Penyimpulan Hasil
Pada tahap penyimpulan, kegiatan yang dilakukan adalah menginterpretasi data untuk menghasilkan temuan. Kegiatan penyimpulan kemudian diikuti oleh peninjauan kembali catatan lapangan, bertukar pikiran dengan para ahli, teman sejawat, dan guru