Kamis, 08 September 2011

Biografi Iwan Fals


Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir di Jakarta, 3 September 1961; umur 50 tahun) adalah seorang Penyanyi beraliran balada danCountry yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia.
Lewat lagu-lagunya, ia 'memotret' suasana sosial kehidupan Indonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang, serta kehidupan dunia pada umumnya, dan kehidupan itu sendiri. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Namun demikian, Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya sendiri tetapi juga sejumlah pencipta lain.
Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.
Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktivitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang OI dapat ditemui setiap penjuru nusantara dan beberapa bahkan sampai ke manca negara.
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kdi Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalam paduan suara sekolah.
Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul, namun album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen. Album ini sekarang menjadi buruan para kolektor serta fans fanatik Iwan Fals.
Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records, tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.
Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Ia kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Saat acara Manasuka Siaran Niaga disiarkan di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.
Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya dianggap dapat memancing kerusuhan. Pada awal kariernya, Iwan Fals banyak membuat lagu yang bertema kritikan pada pemerintah. Beberapa lagu itu bahkan bisa dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang memayungi Iwan Fals enggan atau lebih tepatnya tidak berani memasukkan lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas. Belakangan Iwan Fals juga mengakui kalau pada saat itu dia sendiri juga tidak tertarik untuk memasukkan lagu-lagu ini ke dalam album.
Rekaman lagu-lagu yang tidak dipasarkan tersebut kemudian sempat diputar di sebuah stasiun radio yang sekarang sudah tidak mengudara lagi. Iwan Fals juga pernah menyanyikan lagu-lagu tersebut dalam beberapa konser musik, yang mengakibatkan dia berulang kali harus berurusan dengan pihak keamanan dengan alasan lirik lagu yang dinyanyikan dapat mengganggu stabilitas negara. Beberapa konser musiknya pada tahun 80-an juga sempat disabotase dengan cara memadamkan aliran listrik dan pernah juga dibubarkan secara paksa hanya karena Iwan Fals membawakan lirik lagu yang menyindir penguasa saat itu.
Pada bulan April tahun 1984 Iwan Fals harus berurusan dengan aparat keamanan dan sempat ditahan dan diinterogasi selama 2 minggu gara-gara menyanyikan lirik lagu Demokrasi Nasi dan Pola Sederhana juga Mbak Tini pada sebuah konser di Pekanbaru. Sejak kejadian itu, Iwan Fals dan keluarganya sering mendapatkan teror. Hanya segelintir fans fanatik Iwan Fals yang masih menyimpan rekaman lagu-lagu ini, dan sekarang menjadi koleksi yang sangat berharga.
Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karier Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang didukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.
Setelah kontrak dengan SWAMI yang menghasilkan dua album (SWAMI dan SWAMI II) berakhir, dan di sela Kantata (yang menghasilkan Kantata Takwa dan Kantata Samsara), Iwan Fals masih meluncurkan album-album solo maupun bersama kelompok seperti album Dalbo yang dikerjakan bersama sebagian mantan personil SWAMI.
Sejak meluncurnya album Suara Hati pada 2002, Iwan Fals telah memiliki kelompok musisi pengiring yang tetap dan selalu menyertai dalam setiap pengerjaan album maupun konser. Menariknya, dalam seluruh alat musik yang digunakan baik oleh Iwan fals maupun bandnya pada setiap penampilan di depan publik tidak pernah terlihat merek maupun logo. Seluruh identitas tersebut selalu ditutupi atau dihilangkan. Pada panggung yang menjadi dunianya, Iwan Fals tidak pernah mengizinkan ada logo atau tulisan sponsor terpampang untuk menjaga idealismenya yang tidak mau dianggap menjadi wakil dari produk tertentu.


Keluarga

Iwan lahir dari Lies (ibu) dan mempunyai ayah Haryoso almarhum (kolonel Anumerta). Iwan menikahi Rosana (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Bassae, dan Raya Rambu Rabbani.
Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trademark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.
Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini, yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1982 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1982).
Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991. Sebelumnya Cikal juga pernah dibuatkan lagu dengan judul Anisa pada tahun 1986. Rencananya lagu ini dimasukkan dalam album Aku Sayang Kamu, namun dibatalkan. Lirik lagu ini cukup kritis sehingga perusahaan rekaman batal menyertakannya. Pada cover album Aku Sayang Kamu terutama cetakan awal, pada bagian penata musik masih tertulis kata Anissa.
Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktivitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung, Cimanggis, Depok Jawa Barat. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.
Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang didalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya.
Sejak meninggalnya Galang Rambu Anarki, warna dan gaya bermusik Iwan Fals terasa berbeda. Dia tidak segarang dan seliar dahulu. Lirik-lirik lagunya terkesan lebih dewasa dan puitis.Iwan Fals juga sempat membawakan lagu-lagu bertema cinta baik karangannya sendiri maupun dari orang lain.
Pada tanggal 22 Januari 2003, Iwan Fals dianugrahi seorang anak lelaki yang diberi nama Raya Rambu Rabbani. Kelahiran putra ketiganya ini seakan menjadi pengganti almarhum Galang Rambu Anarki dan banyak memberi inspirasi dalam dunia musik seorang Iwan Fals.
Di luar musik dan lirik, penampilan Iwan Fals juga berubah total. Saat putra pertamanya meninggal dunia Iwan Fals mencukur habis rambut panjangnya hingga gundul. Sekarang dia berpenampilan lebih bersahaja, rambut berpotongan rapi disisir juga kumis dan jenggot yang dihilangkan. Dari sisi pakaian, dia lebih sering menggunakan kemeja yang dimasukkan pada setiap kesempatan tampil di depan publik, sangat jauh berbeda dengan penampilannya dahulu yang lebih sering memakai kaus oblong bahkan bertelanjang dada dengan rambut panjang tidak teratur dan kumis tebal.
Peranan istrinya juga menjadi penting sejak putra pertamanya tiada. Rosana menjadi manajer pribadi Iwan Fals yang mengatur segala jadwal kegiatan dan kontrak. Dengan adanya Iwan Fals Manajemen (IFM), Fals lebih profesional dalam berkarier.


Pendidikan


Diskografi

Iwan Fals pada cover majalah Rolling Stone Mei 2007
Tidak seluruh album yang dikeluarkan Iwan Fals berisi lagu baru. Pada tahun-tahun terakhir, Iwan Fals sering mengeluarkan rilis ulang lagu-lagu lamanya, baik dengan aransemen asli maupun dengan aransemen ulang. Pada tahun-tahun terakhir ini pula Iwan Fals lebih banyak memilih berkolaborasi dengan musisi muda berbakat.
Banyak lagu Iwan Fals yang tidak dijual secara bebas. Lagu-lagu tersebut menjadi koleksi ekslusif para penggemarnya dan kebanyakan direkam secara live. Beberapa lagu Iwan Fals yang tidak dikomersialkan seperti lagu 'Pulanglah' yang didedikasikan khusus untuk almarhum Munir ternyata sangat digemari yang akhirnya direkam ulang dan dimasukkan ke dalam album "50:50" yang beredar di tahun 2007.


Album


Singel


Single Hits yang dibawakan penyanyi lain

  • Maaf (dibawakan oleh Ritta Rubby) (1986)
  • Belailah (dibawakan oleh Ritta Rubby) (1986)
  • Trauma (dibawakan oleh God Bless) (1988)
  • Damai Yang Hilang (dibawakan oleh God Bless) (1988)
  • Orang Dalam Kaca (dibawakan oleh God Bless) (1988)
  • Pak Tua (dibawakan oleh grup band Elpamas) (1991)
  • Oh (dibawakan oleh Fajar Budiman) (1994)
  • Nyanyian laut ( dibawakan Nicky Astria )
  • Menangis (dibawakan oleh Franky S.)
  • Bunga Kehidupan (dibawakan oleh artis Music


  • Album kompilasi
  • Tragedi
  • Banjo & Harmonika
  • Celoteh-celoteh
  • Celoteh-celoteh 2
  • Country
  • Tembang Cinta (1990)
  • Akustik
  • Akustik Ke-2 (1997)
  • Salam Reformasi (1998)
  • Salam Reformasi 2 (1999)
  • Prihatin (2000)


Film



Lagu yang tidak beredar

  • Demokrasi Nasi (1978)
  • Semar Mendem (1978)
  • Pola Sederhana (Anak Cendana) (1978)
  • Mbak Tini (1978)
  • Siti Sang Bidadari (1978)
  • Kisah Sapi Malam (1978)
  • Mince Makelar (1978)
  • Luka Lama (1984)
  • Anissa (1986)
  • Biarkan Indonesia Tanpa Koran (1986)
  • Oh Indonesia (1992)
  • Imelda Mardun (1992)
  • Maumere (1993)
  • Joned (1993)
  • Mesin Mesin Pembunuh (1994)
  • Suara Dari Jalanan (1996)
  • Demokrasi Otoriter (1996)
  • Pemandangan (1996)
  • Jambore Wisata (1996)
  • Aku Tak Punya Apa-Apa (1997)
  • Cerita Lama Tiananmen (1998)
  • Serdadu dan Kutil (1998)
  • 15 Juta (1998)
  • Mencari Kata Kata (1998)
  • Malam Sunyi (1999)
  • Sketsa Setan Yang Bisu (2000)
  • Indonesiaku (2001)
  • Kemarau (2003)
  • Lagu Sedih (2003)
  • Kembali Ke Masa Lalu (2003)
  • Harapan Tak Boleh Mati (2004)
  • Saat Minggu Masih Pagi (2004)
  • Repot Nasi / Sami Mawon (2005)
  • Hari Raya Bumi (2007)
  • Hari Raya Bumi (2007)
  • Berita Cuaca (2008)
  • Paman Zam
  • Kapal Bau Pesing
  • Makna Hidup Ini
  • Selamat Tinggal Ramadhan
  • Nyatakan Saja
  • Berputar Putar
  • Air dan Batu
  • Lagu Pegangan
  • Semut Api dan Cacing Kecil
  • Kata-Kata
  • Pukul Dua Malam
  • Penjara
  • Belatung
  • Nyanyian Sopir
  • Bunga Kayu di Beranda
  • Aku Bergelora
  • Suara Dari Jalanan


Penghargaan

  1. Juara harapan Lomba Musik Humor (1979).
  2. Juara I Festival Musik Country (1980).
  3. Gold record, lagu Oemar Bakri, PT. Musica Studio's.
  4. Silver record, penyanyi & pencipta lagu Ethiopia, PT. Musica Studio's.
  5. Penghargaan prestasi artis HDX 1987 - 1988, pencipta lagu Buku Ini Aku Pinjam.
  6. Penyanyi Pujaan, BASF, (1989).
  7. The best selling, album Mata Dewa, BASF, 1988 - 1989.
  8. Penyanyi rekaman pria terbaik, album Anak Wayang, BASF Award XI, 18 April 1996.
  9. Penyanyi solo terbaik Country/Balada, Anugrah Musik Indonesia - 1999.
  10. Presents This Certificate To Iwan Fals In Recognition Of The Contribution To Cultural Exchange Between Korea and Indonesia, 25 September 1999.
  11. Penyanyi solo terbaik Country/Balada AMI Sharp Award (2000).
  12. Video klip terbaik lagu Entah, Video Musik Indonesia periode VIII - 2000/2001.
  13. Triple Platinum Award, Album Best Of The Best Iwan Fals, PT. Musica Studio's - Juni 2002.
  14. 6th AMI Sharp Award, album terbaik Country/Balada.
  15. 6th AMI Sharp Award, artis solo/duo/grup terbaik Country/Balada.
  16. Pemenang video klip terbaik edisi - Juli 2002, lagu Kupu-Kupu Hitam Putih, Video Musik Indonesia, periode I- 2002/2003.
  17. Penghargaan album In Collaboration with, angka penjualan diatas 150.000 unit, PT. Musica Studio's - Juni 2003.
  18. Triple Platinum Award, album In Collaboration with, angka penjualan diatas 450.000 unit, PT. Musica Studio's - November 2003.
  19. 7th AMI Award 2003, Legend Awards.
  20. 7th AMI Award 2003, Penyanyi Solo Pria Pop Terbaik.
  21. Penghargaan MTV Indonesia 2003, Most Favourite Male.
  22. SCTV Music Award 2004, album Ngetop! (pop) In Collaboration with.
  23. SCTV Music Award 2004, Penyanyi Pop Ngetop.
  24. Anugrah Planet Muzik 2004.
  25. Generasi Biang Extra Joss - 2004.
  26. 8th AMI Samsung Award, Karya Produksi Balada Terbaik.
  27. SCTV Music Award 2005, album pop solo ngetop Iwan Fals In Love.
  28. With The Compliment Of Metro TV.
  29. Partisipasi dalam acara konser Salam Lebaran 2005, PT. Gudang Garam Indonesia.
  30. Mendapatkan Talk Less Do More Award sebagai salah satu Class Music Heroes 2009.
  31. Lagunya bersama {Swami} yang berjudul [Bongkar] menerima penghargaan 150 lagu terbaik sepanjang masa versi Majalah Rolling Stone peringkat 1.
  32. Penghargaan Satyalancana Kebudayaan Pemerintah Republik Indonesia (2010


Contoh Proposal PTK

JUDUL PENELITIAN: “ PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN PAI (ASPEK AKHLAK) PADA SISWA KELAS V SD BAITU ILMIN SURABAYA MELALUI METODE CERAMAH, ROLEPLAY, DAN DISKUSI

  1. Latar Belakang Masalah
Kondisi pemahaman penanaman akhlak sesuai dengan materi pelajaran pada siswa SD Baitu Ilmin kelas V dirasa masih jauh dari tujuan, hal ini bisa dilihat pada saat guru mengevaluasi hasil proses belajar mengajar yang baru saja dilewati, tidak membekas pada ingatan siswa apalagi sampai mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari segi kognisi, hanya beberapa  siswa (5%) yang dapat menyimpulkan materi yang baru saja berlangsung. Hal ini  disebabkan kurangnya variasi dalam menggunakan metode pembelajaran yang sesuai denga tujuan pencapaian akhlak siswa. Selama ini dalam pembelajaran akhlak, guru hanya menggunakan metode ceramah (cerita) sesuai dengan bacaan yang terdapat pada buku pegangan siswa. Kondisi seperti ini yang menjadikan kurang bermutunya hasil pembelajaran pada aspek akhlak, dan harus segera dilaksanakan sebuah penelitian tindakan dengan mencoba menggunakan metode pembelajaran secara bervariasi.
Harapan setelah diadakan penerapan metode ceramah, sosiodrama, dan diskusi pada saat yang bersamaan, siswa akan lebih memahami dan pembelajaran akan bermakna sehingga proses belajar mengajar menjadi berkualitas. Drs. Syaiful Bahri D dan Drs. Aswan Zain mengatakan, sebelum metode sosiodrama dimulai, terlebih dahulu harus dijelaskan oleh guru alur drama yang akan dipraktekan siswa, dan itu menggunakan metode ceramah, kemudian setelah sosiodrama di pergunakan, para siswa mendiskusikan hasil drama yang telah diperankan oleh teman mereka sendiri (2006).
Karena siswa sendiri yang memperagakan akhlak sesuai dengan karakter yang dimainkan, maka secara tidak langsung siswa mengalami sendiri dan diharapkan pembelajaran bisa bermakna bagi mereka, kemudian secara berkelompok, siswa mendiskusikan drama yang telah ditampilkan untuk membuat suatu pelejaran yang bisa diambil dari kejadian yang baru saja berlangsung.

  1. Rumusan masalah
Proses pembelajaran PAI di SD Baitu Ilmin, khususnya aspek Akhlak, yang pada intinya adalah menilai segi afektifnya, selama ini guru belum pernah mempraktekan metode yang sesuai dengan pencapaian pembelajaran dengan cara bervariasi. Maka hasilnya, kualitas pembelajaran sangat kurang, bisa dibilang pencapaian hasil belajar hanya 15%. Siswa juga merasa kurang bergairah mengikuti pembelajaran karena guru menerangkan secara monoton. Maka penelitian ini kami ambil rumusan masalah sebagai berikut:
Apakah melalui penerapan metode ceramah, role play, dan diskusi secara bervariasi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran akhlak pada siswa kelas V SD Baitu Ilmin Surabaya?

  1. Tujuan Penelitian
Bagi guru, penelitian bertujuan untuk meningkatkan ekspertisnya yang dapat disumbangkan kepada masyarakat sekolah dengan berbagai perspektif unik dalam belajar mengajar (Rochiati Wiriaatmdja: 2006). Seorang guru seharusnya tidak Cuma mengajar sebagai tugas pokok, tapi juga meneliti keberhasilan dalam proses belajar mengajar, apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan atau belum. Menurut Susilo (2007); Guru tidak sekedar datang, mengajar dan pulang, namun diperlukan analisis tindakan dalam kelas. Dari analisis diharapkan menemukan kesalahan yang selama ini menjadi terhambatnya tujuan pembelajaran serta kurang berkualitasnya hasil proses belajar mengajar. Hal itu dimungkinkan adanya salah satu kesalahan dalam menerapkan metode pembelajaran. Sesuai dengan topik penelitian tindakan kelas melalui penerapan metode ceramah, role play, dan diskusi diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran aspek akhlak bagi siswa kelas V SD Baitu Ilmin Surabaya.
Sebagai tujuan utama penelitian adalah ingin mengetahui peninmgkatan kualitas pembelajaran setelah menerapkan metode ceramah, role play, dan diskusi secara bervariasi.


  1. Manfaat Penelitian
Penerapan metode secara bervariasi antara metode ceramah, role play, dan diskusi diharapkan dapat bermanfaat bagi:
-          Siswa, memahami karakter sesuai dengan peran yang dimainkan sehingga dapat diaplikasikan dalam tingkahlaku sehari-hari, serta memahami beberapa metode yang dipraktekkan oleh guru.
-          Guru bidang studi, mencoba menggabungkan beberapa metode pembelajaran sekaligus untuk meningkatkan kualitas proses pembelajara yang selama ini belum pernah dilakukan sekaligus mengaplikasikan model Pembelajaran yang Akti, Inovatif, Kreatia, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM).
-          Guru lain, bisa dijadikan contoh untuk melakukan dan melaksanakan proses pembelajaran dengan menggabungkan beberapa metode pembelajaran sesuai dengan bidang studi yang diampu.

















E. KAJIAN PUSTAKA
      Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Guru dengan sadar harus berusaha mengatur lingkungan pembelajaran agar siswa dalam belajar merasa bergairah dan menyenangkan serta berkualitas, dan hal itu bisa terwujud manakala dalam proses pembelajaran menggunakan beberapa metode pembelajaran.
      Yang perlu dilakukan para guru adalah memahami kedudukan metode pembelajaran itu sendiri sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kedudukan metode merupakan salah satu komponen yang ikut ambil bagian dari keberhasilan belajar mengajar . Kerangkan berpikir yang demikian bukan merupakan hal yang aneh, tapi benar-benar nyata dan memang harus benar-benar dipikirkan oleh seorang guru.
      Metode dalam pembelajaran sangat banyak, dan guru jarang sekali menggunakan satu metode dalam tiap kali pertemuan. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan (H.M. Arifin: 2003). Adapun metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran (Hamzah B. Uno: 2007). Penggunaan metode harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan serta suasana kelas. Penggunaan metode yang tepat dan bervariasi akan dapat dijadikan  sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah (Drs. Saiful Bahri dan Drs. Aswan Zain: 2006).

  1. Metode Ceramah
Metode ceramah sering juga dikatakan metode kuliah. Hal ini bisa dikatakan demikian karena metode ceramah adalah metode yang menggunakan tehnik seorang guru aktif berceramah, dan seorang siswa hanya menjadi pendengar setia. Metode ceramah memang tidak bisa ditinggal, yaitu sebagai wahana pengantar dalam menerangkan berbagai topik maupun tujuan yang akan dicapai, meskipun hanya ceramah singkat. Adapun yang dimaksud dengan metode ceramah adalah metode yang memberikan informasi pada sejumlah pendengar pada suatu kesempatan (Dra. Wahyu Suprapti, MM dan Drs. Sudariman: 2002) 
  1. Metode Role Play
Secara etimologi yang dimaksud role play (bermain peran) adalah memainkan sesuatu peran tertentu sehingga pemain harus mampu berbuat (berbicara dan bertindak) seperti peran yang sedang dimainkan (Dra. Wahyu Suprapti: 2002).  Penggunaan metode role play diharapkan siswa sendiri yang memerankan seorang pelaku, sehingga siswa benar-benar memahami karakter dan tingkahlaku sosial seperti aslinya. Jika seorang guru ingin mendapatkan kualitas pembelajaran terutama aspek akhlak, maka harus ada satu contoh akhlak yang bisa ditiru siswa dalam penerapan metode role play seperti peranan yang dimainkan. Secara tidak langsung, siswa seakan-akan mengalami  langsung, sehingga diharapkan pengetahuan siswa tentang peran yang dimainkan selamanya membekas sebagi efek dari peran yang dimainkan. Berbeda hasilnya  jika seorang guru hanya menceritakan peran seseorang yang dimaksud tanpa sedikitpun melibatkan siswa untuk berperan. Pemakaian metode role play ini harus dipersiapkan guru dengan sebaik mungkin, sehingga siswa yang ditunjuk untuk memerankan seorang tokoh benar-benar dapat menghayati dan mengapresiasikan sesuai dengan skenario yang sudah disusun secara baik oleh guru. Hal-hal yang belum difahami siswa dalam memerankan seorang tokoh, harus diterangkan

  1. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah membahas sesuatu masalah dengan mengemukakan dasar alasannya untuk mencari jalan solusinya denga  sebaik-baiknya. Diskusi merupakan ajang bertukar pikiran diantara sejumlah siswa dan membahas masalah tertentu uyang dilaksanakan secara teratur, dan bertujuan untuk memecahkan masalah tersebut. Kelebihan penerapan metode diskusi diantaranya adalah; anggota kelompok berpartisipasi aktif, mengembangkan tanggung-jawab perorangan atau kelompok, mengukur konsep atau ide yang dapat diakui kebenarannya dan dapat diterapkan, mengembangkan confidensi siswa dalam mneyajikan pendapatnya, memperoleh banyak informasi, serta aplikasi hasil hasil diskusi mantap karena ide yang dikemukakan adalah hal yang alami. Hal-hal yang perlu dihindari sebagai kelemahan penerapan metode diskusi, diantaranya adalah; memakan waktu yang cukup lama, perlu persiapan yang matang, dan guru harus menghentikan diskusi manakala pada saat siswa berpendapat atau bertanya keluar dari topik yang didiskusikan.

Bila ketiga metode tersebut digabungkan secara bervariasi dalam kegiatan pembelajaran, maka peranan metode ceramah dijadikan sebagai pengantar untuk mengarahkan topik dan tujuan yang ingin dicapai bersama-sama, dan metode role play digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam mempraktekkan peranan sesuai dengan yang diharapkan, dan hasil akhirnya dapat dilakukan diskusi secara bersama-sama melalui pembentukan kelompok untuk mengevaluasi hal-hal yang belum dimengerti, serta dijadikan wahana untuk menggali gagasan siswa dalam menggambil suatu kesimpulan dari proses pembelajaran yang baru saja dilangsungkan. Dengan penggunaan metode yang bervariasi diharapkan kualitas pembelajaran menjadi meningkat, karena dipraktekkan dengan menyenangkan, sehingga menghindari kebosanan dan kejenuhan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Pembelajaran Akhlak
Pembelajaran akhlak termasuk dalam kerangka dasar kurikulum 2006 termasuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. Menurut E. Mulyasa ( 2006), ruang lingkup kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia  dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa   kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
Jelas bahwa pembelajaran akhlak termasuk salah satu tujuan utama dalam dunia pendidikan dengan harapan semua peserta didik dapat berakhlakul karimah sesuai dengan harapan masyarakat, bangsa dan negara, lebih-lebih agama.


F. METODOLOGI PENELITIAN
            Metodologi penelitian ini secara sistematis adalah dengan diawali langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Setting; penelitian ini dilakukan terhadap 35 siswa SD Baitu Ilmin kelas V dalam peningkatan kualitas pembelajaran PAI aspek akhlak dengan menerapkan metode ceramah, role play, dan diskusi yang selama ini belum pernah dilakukan sehingga pembelajaran belum mencapai tujuan sesuai harapan. Hal ini dikarenakan guru bidang studi PAI belum melaksanakan metode pembelajaran secara bervariasi, bahkan selama ini bersifat monoton sehingga proses pembelajaran kurang berkualitas dan tidak menyenangkan. Penelitian ini akan dilakukan selama semester genap.
  2. Sasaran; diharapkan jumlah 35 siswa SD Baitu Ilmin kelas V berpartisipasi aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar dengan menggunakan metode secara bervariasi sehingga para siswa merasa senang dan tidak bosan, dan pada akhirnya proses pembelajaran akan berkualitas demi mewujudkan tujuan pembelajaran.
  3. Rencana Tindakan; Guru memberitahukan kepada siswa kelas V SD Baitu Ilmin Surabaya bahwa pertemuan minggu depan akan dilaksanakan sosio drama untuk materi akhlak sesuai dengan Standar Kompetensi. Guru menyiapkan segala fasilitas, dan sebelum siswa melakukan role play, guru menjelaskan langkah-langkah yang harus diperankan oleh siswa yang ditunjuk. Kemudian mengamati pelaksanaan metode role play, setelah pelaksanaan role play, seluruh siswa harus berkumpul sesuai dengan kelompok masing-masing yang sebelumnya sudah ditentukan oleh guru untuk berdiskusi membahas hal-hal yang masih belum jelas setelah permainan drama dan mengevaluasi. Guru juga menganalisis perjalanan praktek metode dari awal hingga akhir pembelajaran, dan mencatat langkah selanjutnya yang perlu diperbaiki sehingga penerapan metode pembelajaran yang akan datang akan lebih baik daripada yang telah dilakukan.
  4. Pengambilan Data; Data diambil pada saat awal pembelajaran dimulai, baik pada saat guru berceramah, bagaimana siswa memperhatikan  penjelasan dari guru tentang topik dan kompetensi dasar yang akan dicapai, kemudian menilai keseriusan siswa yang telah memerankan sesuai dengan tokoh yang diperankan, apakah sudah sesuai dengan peranannya, dan bagaimana dengan siswa lain yang juga menyimpulkan jalannya alur cerita, apa saja yang dapat mengganggu kelancaran dalam pelaksanaan metode ceramah dan role play. Dan guru juga menilai sikap siswa disaat pelaksanaan diskusi, dengan memperhatikan alokasi waktu, serta fokus pembicaraan dalam memecahkan suatu masalah yang belum dimengerti oleh sebagian siswa. Langkah selanjutnya (siklus) adalah merencanakan proses pembelajaran pertemuan ke dua, melaksanaan metode pembelajaran, mengamati proses pembalajaran sesuai dengan metode yang direncanakan, kemudian mengevaluasi hasilnya.  
  5. Analisis Data; Proses pembelajaran yang telah berlangsung dianalisis hasilnya, mulai dari guru memberikan arahan dan penjelasan, kemudian menyuruh siswa memperagakan sesusai dengan skenario dalam memerankan seorang tokoh, dan bagaimana perjalanan diskusi siswa dalam memecahkan permasalahan, dan guru merencanakan langkah siklus  berikutnya. Selanjutnya seluruh kegiatan pembelajaran dianalisis untuk mengetahui kegagalan atau kesalahan untuk diperbaiki dalam pembelajaran yang akan datang.
  6. Indikator Kinerja; Siswa kelas V SD Baitu Ilmin dapat memerankan perilaku tokoh yang diperankan dan mencontoh akhlak atau perilaku yang baik seperti yang diperankannya.

G. Jadwal Penelitian
Penelitian dilakukan mulai dari awal pembelajaran efektif semester genap hingga akhir, atau kurang lebih 4 - 5 bulan dengan melakukan minimal 2 siklus dan sekaligus pembuatan laporan pelaksanaan penelitian. Lebih rinci seperti tabel di bawah ini:
No
Jenis Kegiatan
Bulan
1
Penyusunan Proposal
Pertama
2
Pelaksanaan PBM dengan metode bervariasi
Ke-dua
3
Evaluasi/refleksi kegiatan
Ke-tiga
4
Pelaksanaan PBM selanjutnya
Ke-empat
5
Evaluasi/refleksi kegiatan kedua
Ke-lima
6
Penyusunan Laporan Hasil Penelitian
Ke-enam

CURICULUM VITTAE

Artikel Penelitian dan Non Penelitian

ARTIKEL PENELITIAN DAN NONPENELITIAN

A. ARTIKEL HASIL PENELITIAN
Hasil-hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk artikel untuk kemudian diterbitkan dalam jurnal-jurnal memiliki kelebihan disbanding dengan yang ditulis dalam bentuk laporan teknis resmi. Laporan teknis resmi memang dituntut untuk berisi hal-hal yang menyeluruh dan lengkap sehingga naskahnya cenderung tebal dan direproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas, akibatnya hanya kalangan yang sangat terbatas saja yang dapat membacanya. Sebaliknya, hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk artikel biasanya dituntut untuk berisi hal-hal yang penting saja oleh karena, setiap kali terbit, sebuah jurnal memuat beberapa artikel, sehingga ruang yang tersedia untuk sebuah terbatas. Hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk artikel dalam jurnal akan memberikan dampak akademik yang lebih cepat dan luas daripada laporan teknis resmi.
Sebelum ditampilkan sebagai artikel dalam jurnal, laporan penelitian harus disusun kembali agar memenuhi tata tampilan karangan sebagaimana yang dianjurkan oleh dewan penyunting jurnal yang bersangkutan dan tidak melampaui batas panjang karangan. Jadi, artikel hasil penelitian bukan sekadar bentuk ringkas atau “pengkerdilan” dari laporan teknis, tetapi merupakan hasil kerja penulisan baru, yang dipersiapkan dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tetap menampilkan secara lengkap semua aspek penting penelitian, tetapi dalam format artikel yang jauh lebih kompak dan ringkas daripada laporan teknis aslinya.

1. Ciri Pokok
Laporan dalam bentuk artikel ilmiah dibedakan dengan laporan teknis dalam tiga segi, yaitu bahan, sistematika, dan prosedur penulisan. Ciri pokok pertama yang membedakan artikel hasil penelitian dengan laporan penelitian teknis resmi adalah bahan yang ditulis. Artikel hasil penelitian untuk jurnal hanya berisi hal-hal yang sangat penting saja. Bagian yang dianggap paling untuk disajikan dalam artikel hasil tian adalah temuan penelitian, pembahasan hasil/temuan, dan kesimpulannya. Hal-hal selain ketiga hal tersebut cukup disajikan dalam bentuknya yang serba singkat dan seperlunya. Kajian pustaka lazin disajikan untuk mengawali artikel dan sekaligus merupakan suatu pembahasan tentang rasional pentingnya masalah yang diteliti. Bagian awal ini berfungsi sebagai latar belakang penelitian.
Ciri pokok kedua yang membedakan artikel hasil penelitian dengan laporan penelitian teknis resmi adalah sistematika penulisan yang digunakan. Laporan penelitian terdiri atas bab dan subbab, sedangkan artikel dan makalah terdiri atas bagian dan subbagian yang dapat diberi judul dan dapat pula tidak. Dalam laporan penelitian teknis resmi, kajian pustaka lazimnya disajikan di bagian kedua (Bab II), yakni setelah bagian yang membahas masalah, pentingnya penelitian, hipotesis (jika ada), dan tujuan penelitian. Dalam bagian artikel hasil penelitian, kajian pustaka merupakan bagian awal dari artikel (tanpa judul subbagian kajian pustaka) yang berfungsi sebagai bagian penting dari latar belakang. Kajian pustaka yang sekaligus berfungsi sebagai pembahasan latar belakang masalah penelitian ditutup dengan rumusan tujuan penelitian. Setelah itu, berturut-turut disajikan hal-hal yang berkaitan dengan prosedur penelitian, hasil dan temuan penelitian, pembahasan hasil, kesimpulan, dan saran.
Ciri pokok ketiga adalah prosedur penulisan artikel hasil penelitian. Ada tiga kemungkinan prosedur penulisan artikel hasil penelitian. Pertama, artikel hasil penelitian ditulis sebelum laporan penelitian teknis resmi secara lengkap dibuat. Tujuannya untuk menjaring masukan-masukan dari pembaca sebelum peneliti menyelesaikan tulisan lengkapnya dalam bentuk laporan penelitian teknis resmi. Masukan itu diharapkan meningkatkan kualitas hasil temuan penelitiannya. Kedua, artikel hasil untuk jurnal ditulis setelah laporan teknis resmi selesai disusun. Prosedur kedua ini berlaku karena pada umumnya menulis laporan penelitian teknis resmi merupakan kewajiban, sedangkan penulisan artikelnya hanya bersifat anjuran. Ketiga, artikel penelitian yang diterbitkan di jurnal merupakan satu-satunya tulisan yang dibuat oleh peneliti. Alternatif ketiga ini lazim dilakukan oleh peneliti yang mendanai penelitiannya sendiri. Bagi penelitian swadana, artikel hasil penelitian dalam jurnal merupakan forum komunikasi yang paling efektif dan efisien.

2. Isi dan Sistematika
Penulisan artikel menggunakan sistematika tanpa angka ataupun abjad. Berikut ini disajikan uraian tentang isi artikel hasil penelitian secara umum yang berlaku untuk hasil penelitian, baik penelitian kualitatif maupun kuantitatif.
a. Judul
Judul artikel hasil penelitian diharapkan dapat dengan cepat memberikan gambaran mengenai penelitian yang telah dilakukan. Karena itu, judul artikel hendaknya informatif, lengkap, tidak terlalu panjang/pendek, antara 5 – 15 kata.  Judul artikel memuat variabel-variabel yang diteliti atau kata kunci yang menggambarkan masalah yang diteliti. Variabel-variabel penelitian dan hubungan antarvariabel serta informasi lain yang dianggap penting hendaknya terlihat dalam judul artikel.

b. Nama Penulis
Untuk menghindari bias terhadap senioritas dan wibawa atau inferioritas penulis, nama penulis artikel tanpa disertai gelar akademik atau gelar profesional yang lain. Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan boleh disertakan. Nama lembaga tempat penulis bekerja ditulis sebagai catatan kaki di halaman pertama. Jika penulis lebih dari 2 orang, hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan di bawah judul disertai tambahan dkk. (dan kawan-kawan). Nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki atau di dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki tidak mencukupi.
c. Sponsor
Nama sponsor penelitian ditulis sebagai catatan kaki pada halaman pertama, diletakkan di atas nama lembaga asal peneliti.
d. Abstrak dan Kata Kunci
Abstrak berisi pernyataan ringkas dan padat tentang ide-ide yang paling penting. Dalam artikel hasil penelitian abstrak secara ringkas memuat uraian mengenai masalah dan tujuan penelitian, metode yang digunakan, prosedur penelitian (untuk penelitian kualitatif termasuk diskripsi tentang subjek yang diteliti),  dan hasil penelitian (bila dianggap perlu, juga kesimpulan dan implikasi). Tekanan utama diberikan kepada hasil penelitian. Hal-hal lain seperti hipotesis, pembahasan, dan saran tidak disajikan. Panjang abstrak 50 – 75 kata dan ditulis dalam satu paragraf. Abstrak diketik dengan spasi tunggal dengan menggunakan format yang lebih sempit dari teks utama (margin kanan dan kiri menjorok masuk 1,2 cm).
Kata kunci adalah kata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang diteliti (ranah masalah yang diteliti) atau istilah-istilah yang merupakan dasar pemikiran gagasan dalam karangan asli, berupa kata tunggal atau gabungan kata. Masalah yang diteliti ini sering tercermin dalam variabel-variabel penelitian dan hubungan antara variabel-variabel tersebut. Walaupun demikian, tidak ada keharusan kata-kata kunci diambil dari veriabel-variabel penelitian atau dari kata-kata yang tercantum di dalam judul artikel. Jumlah kata kunci antara 3 – 5 buah. Kata kunci diperlukan untuk komputerisasi sistem informasi ilmiah. Dengan kata kunci dapat ditemukan judul-judul penelitian beserta abstraknya dengan mudah.
e. Pendahuluan
 Pendahuluan tidak diberi judul, ditulis langsung setelah abstrak dan kata kunci. Bagian ini menyajikan kajian pustaka yang berisi paling sedikit tiga gagasan: (1) latar belakang atau rasional penelitian, (2) masalah dan wawasan rencana pemecahan masalah, (3) rumusan tujuan penelitian (dan harapan tentang manfaat hasil penelitian).
Bagian kajian pustaka harus disertai rujukan yang bisa dijamin otoritas penulisnya. Jumlah rujukan harus proporsional. Pembahasan kepustakaan harus disajikan secara ringkas, padat, dan langsung mengenai masalah yang diteliti. Aspek yang dibahas dapat mencakup landasan teorinya, segi historisnya, atau segi lainnya. Penyajian latar belakang atau rasional penelitian hendaknya sedemikian rupa sehingga mengarahkan pembaca ke rumusan masalah penelitian yang dilengkapi dengan rencana pemecahan masalah dan akhirnya ke rumusan tujuan. Untuk penelitian kualitatif di bagian ini dijelaskan juga fokus penelitian dan uraian konsep yang berkaitan dengan fokus penelitian.
Banyak jurnal tidak mencantumkan subjudul untuk pendahuluan. Bagian ini terutama berisi paparan tentang permasalahan penelitian, wawasan, dan rencana penulis dalam kaitannya dengan upaya pemecahan masalah, tujuan penelitian, dan rangkluman kajian teoritik yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kadang-kadang juga dimuat harapan akan hasil dan manfaat penelitian.
Penyajian bagian pendahuluan dilakukan secara naratif, dan tidak perlu pemisahan (visi) dari suatu subbagian ke subbagian lain. Pemisahan dilakukan hanya dengan pergantian paragraf.

f. Metode
Bagian ini menyajikan bagaimana penelitian itu dilakukan. Uraian disajikan dalam beberapa paragraf tanpa subbagian atau dipilah-pilah menjadi beberapa beberapa subbagian. Hanya hal-hal yang pokok saja yang disajikan. Uraian rinci tentang rancangan penelitian tidak perlu diberikan.
Materi pokok bagian ini adalah rancangan atau desain penelitian (bagaimana data dikumpulkan), sasaran atau target penelitian (populasi dan sampel) atau siapa sumber data, teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen, dan teknik analisis data (bagaimana data dianalisis). Apabila uraian ini disajikan dalam subbagian, maka subbagian itu antara lain berisi keterangan tentang populasi dari sampel atau subjek, instrumen pengumpulan data, rancangan penelitian (terutama jika digunakan rancangan yang cukup kompleks seperti rancangan eksperimantal), dan teknik analisis data. Sub-subbagian tersebut umumnya (sebaiknya) disampaikan dalam format essei dan sesedikit mungkin menggunakan format enumeratif. 
Penelitian yang menggunakan alat dan bahan perlu ditulis spesifikasi alat dan bahannya. Spesifikasi alat menggambarkan tingkat kecangguhan alat yang digunakan, sedangkan spesifikasi bahan juga perlu diberikan karena penelitian ulang dapat berbeda dari penelitian perdana apabila spesifikasi bahan yang digunakan berbeda.
Untuk penelitian kualitatif perlu ditambahkan perian mengenai kehadiran peneliti, subjek penelitian, dan informan beserta cara-cara menggali data penelilitan, lokasi penelitian, dan lama penelitian. Selain itu juga diberikan uraian mengenai pengecekan keabsahan hasil penelitian.
g. Hasil
Bagian ini merupakan bagian utama artikel ilmiah, dan oleh karena itu biasanya merupakan bagian terpanjang. Bagian ini memuat hasil penelitian, tepatnya hasil analisis data. Hasil yang disajikan adalah hasil bersih. Proses analisis data (seperti perhitungan statistik) tidak perlu disajikan. Proses pengujian hipotesis pun tidak perlu disajikan, termasuk perbandingan antara koefisien yang ditemukan dalam analisis dan hasil pengujian hipotesis.
Penyampaian hasil penelitian dapat dibantu dengan penggunaan tabel dan grafik (atau bentuk/format komunikasi yang lain). Tabel atau grafik harus diberi komentar atau dibahas dalam tubuh artikel. Pembahasan tidak harus dilakukan per tabel atau grafik. Tabel atau grafik digunakan untuk memperjelas penyajian hasil secara verbal.
Penyajian hasi yang cukup panjang dapat dibagi dalam beberapa subbagian. Apabila hasil yang disajikan cukup panjang, penyajian harus dilakukan dengan memilah-milah menjadi subbagian-subbagian sesuai dengan penjabaran masalah penelitian. Apabila bagian ini pendek, bisa digabung dengan bagian pembahasan. Untuk penelitian kualitatif, bagian hasil memuat bagian-bagian rinci dalam bentuk subtopik-subtopik yang berkaitan langsung dengan fokus penelitian.
h. Pembahasan
Bagian ini adalah bagian terpenting dari keseluruhan isi artikel ilmiah. Penulis artikel dalam bagian ini menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dan menunjukkan bagaimana temuan-temuan tersebut diperoleh, menginterpretasikan temuan, mengaitkan temuan penelitian dengan struktur pengetahuan yang telah mapan dan memunculkan ”temuan-temuan” baru atau modifikasi teori yang telah ada. Tujuan pembahasan adalah: (a) menjawab masalah penelitian atau menunjukkan bagaimana tujuan penelitian itu dicapai, (b) menafsirkan temuan-temuan, (c) mengintegrasikan temuan penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang telah mapan, dan (d) menyusun teori baru atau memodifikasi teori yang ada.
Dalam menjawab masalah penelitian atau tujuan penelitian, harus disimpulkan hasil-hasil penelitian secara eksplisit. Misalnya dinyatakan bahwa penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan kognitif anak sampai umur 5 tahun, maka dalam bagian pembahasan haruslah diuraikan pertumbuhan kognitif anak itu sesuai dengan hasil penelitian.
Penafsiran terhadap temuan dilakukan dengan menggunakan logika dan teori-teori yang ada. Misalnya ditemukan adanya korelasi antara kematangan berpikir dengan lingkungan anak, Hal ini dapat ditafsirkan bahwa lingkungan dapat memberikan masukan untuk mematangkan proses kognitif anak. Lingkungan adalah segala sesuatu yang terdapat di sekitar anak, termasuk sekolah sebagai tempat belajar.
Temuan diintegrasikan ke dalam kumpulan pengetahuan yang sudah ada dengan jalan membandingkan temuan itu dengan temuan penelitian sebelumnya, atau dengan teori yang ada, atau dengan kenyataan di lapangan. Perbandingan tersebut harus disertai rujukan.
Jika penelitian ini menelaah teori (penelitian dasar), teori yang lama bisa dikonfirmasi atau ditolak, sebagian atau seluruhnya. Penolakan terhadap sebagian teori harus disertai dengan modifikasi teori, sedangkan penolakan terhadap seluruh teori haruslah disertai dengan rumusan teori baru.
Untuk penelitian kualitatif, bagian ini dapat pula memuat ide-ide peneliti, keterkaitan antara kategori-kategori dan dimensi-dimensi serta posisi temuan atau penelitian terhadap temuan dan teori sebelumnya.


i. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Dari kedua hal ini dikembangkan pokok-pokok pikiran (baru) yang merupakan esensi dari temuan penelitian. Kesimpulan disajikan dalam bentuk essei, bukan dalam bentuk numerikal.
Saran hendaknya dikembangkan berdasarkan temuan penelitian atau disusun berdasarkan kesimpulan yang telah ditarik. Saran dapat mengacu pada tindakan praktis, pengembangan teori baru, dan penelitian lanjutan. Bagian saran bisa berdiri sendiri.
j. Daftar Rujukan
Bagian rujukan harus lengkap dan sesuai dengan rujukan yang disajikan dalam batang tubuh artikel ilmiah. Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam batang tubuh artikel. Demikian pula semua rujukan yang disebutkan dalam batang tubuh harus disajikan dalam daftar rujukan.

B. ARTIKEL NONPENELITIAN/ARTIKEL HASIL PEMIKIRAN
Artikel hasil pemikiran adalah hasil pemikiran penulis atas suatu permasalah, yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Dalam upaya untuk menghasilkan artikel jenis ini penulis terlebih dahulu mengkaji sumber-sumber yang relevan dengan permasalahannya, baik yang sejalan maupun yang bertentangan dengan apa yang dipikirkannya. Sumber-sumber yang  dianjurkan untuk dirujuk dalam rangka menghasilkan artikel hasil pemikiran adalah juga artikel-artikel hasil pemikiran yang relevan, hasil-hasil penelitian terdahulu, di samping teori-teori yang dapat digali dari buku-buku teks.
Bagian paling vital dari artikel hasil penelitian adalah pendapat atau pendirian penulis tentang hal yang dibahas, yang dikembangkan dari analisis terhadap pikiran-pikiran mengenai masalah yang sama yang telah dipublikasikan sebelumnya dan pikiran baru penulis tentang hal yang perlu dikaji jika memang ada. Jadi, artikel hasil pemikiran nukanlah sekadar kulase atau tempelan cuplikan dari sejumlah artikel, apalagi pemindahan tulisan dari sejumlah sumber, tetapi adalah hasil pemikiran analitis dan kritis penulisnya.
Ketentuan untuk penulisan artikel nonpenelitian pada dasarnya berlaku juga untuk penulisan makalah pendek (yaitu makalah yang panjangnya tidak lebih dari 20 halaman), kecuali dalam makalah pendek abstrak dan kata-kata kunci tidak harus ada.
Istilah artikel nonpenelitian mengacu kepada semua jenis artikel ilmiah yang bukan merupakan laporan hasil penelitian. Artikel yang termasuk kategori artikel nonpenelitian antara lain berupa artikel yang menelaah suatu teori, konsep, atau prinsip, mengembangkan suatu model, mendiskripsikan fakta atau fenomena tertentu, menilai suatu produk, dan masih banyak jenis yang lain. Karena beragamnya jenis artikel ini, maka cara penyajiannya di dalam jurnal sangat bervariasi.

1. Isi dan Sistematika
Sebuah artikel nonpenelitian berisi hal-hal yang sangat esensial; karena itu biasanya jumlah halaman yang disediakan tidak banyak (antara 10 – 20 halaman). Unsur pokok yang harus ada dalam artikel nonpenelitian dan sistematikanya adalah: (1) judul artikel, (2) nama penulis, (3) abstrak dan kata kunci, (4) pendahuluan, (5) bagian inti, (6 penutup, dan (7) daftar rujukan.

a.Judul
Judul artikel sebagai label yang mencerminkan secara tepat inti isi yang terkandung dalam artikel. Untuk itu, pemilihan kata yang dipakai dalam judul artikel hendaknya dilakukan secara cermat. Di samping aspek ketepatannya, pilihan kata untuk judul perlu juga mempertimbangkan pengaruhnya terhadap daya tarik judul bagi pembaca. Judul artikel sebaiknya terdiri atas 5 – 15 kata.
Judul artikel hasil pemikiran hendaknya mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas. Pilihan kata-kata harus tepat, mengandung unsu-unsur utama maslah, jelas, dan setelah disusun dalm bentuk judul harus memiliki daya tarik yang cukup kuat bagi calon pembaca. Judul dapat ditulis dalam bentuk berita atau kalimat tanya. Salah satu ciri penting judul artike hasil pemikiran adalah ”provokatif”, dalam arti merangsang pembaca untuk membaca artikel yang bersangkutan. Hal ini penting karena artikel hasil pemikiran pada dasarnya bertujuan untuk membuka wacana diskusi argumentasi, analisis, dan sintesis pendapat-pendapat para ahli atau pemerhati bidang tertentu.
Perhatikan judul-judul artikel di bawah ini, dan lakukan evaluasi terhadap judul-judul tersebut untuk melihat apakah kriteria yang tersebut di atas terpenuhi.
·         Membangun Teori melalui Pendekatan Kualitatif (Forum Penelitian Kependidikan Tahun 7, No. 1)
·         Repelita IV: Cautious Development Plan for Steady Growth (Kaleidoscope International Vol. IX No.1)
·         Interpreting Student’s and Teacher’s Discourse in Science Classes: An Underestimated Problem? ( Journal of Research in Science Teaching Vol. 33, No. 2 ).
Di dalam contoh-contoh judul di atas seharusnya tercermin ciri-ciri yang diharapkan ditunjukkan oleh artikel hasil pemikiran seperti provokatif, argumentatif, dan analitik.
b. Nama Penulis
Untuk menghindari bias terhadap senioritas dan wibawa atau inferioritas penulis, nama penulis artikel tanpa disertai gelar akademik atau gelar profesional yang lain. Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan boleh disertakan. Nama lembaga tempat penulis bekerja ditulis sebagai catatan kaki di halaman pertama. Jika penulis lebih dari 2 orang, hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan di bawah judul disertai tambahan dkk. (dan kawan-kawan). Nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki atau di dalam catatan akhir jika tempat pada catatan kaki tidak mencukupi.
c. Abstrak dan Kata Kunci
Untuk artikel nonpenelitian, abstrak berisi ringkasan dan isi artikel yang dituangkan secara padat, bukan komentar atau pengantar dari penyunting atau redaksi. Panjang abstrak 50 – 75 kata dan ditulis dalam satu paragraf. Abstrak diketik dengan spasi tunggal dengan menggunakan format yang lebih sempit dari teks utama (margin kanan dan kiri menjorok masuk 1,2 cm).
Dengan membaca abstrak diharapkan calon pembaca segera memperoleh gambara umum dari masalah yang dibahas dalam artikel. Ciri-ciri umum hasil pemikiran seperti kritis dan provokatif hendaknya juga sudah terlihat dalam abstrak ini sehingga calon pembaca tertarik untuk meneruskan pembacannya.
Abstrak hendaknya juga disertai dengan 3-5 kata kunci, yaitu istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait dengan ranah permasalahan yang dibahas dalam artikel, atau kata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang diteliti atau istilah-istilah yang merupakan dasar pemikiran gagasan dalam karangan asli, berupa kata tunggal atau gabungan kata. Jumlah kata kunci antara 3 – 5 buah. Jika dapat diperoleh, kata-kata kunci hendaknya diambil dari tesaurus bidang ilmu terkait. Perlu dicatat bahwa kata-kata kunci tidak hanya dapat dipetik dari judul artikel, tetapi juga dari tubuh artikel walaupun ide-ide atau konsep-konsep yang diwakili tidak secara eksplisit dinyatakan atau dipaparkan di dalam judul atu tubuh artikel. Kata kunci diperlukan untuk komputerisasi sistem informasi ilmiah. Dengan kata kunci dapat ditemukan judul-judul penelitian beserta abstraknya dengan mudah.
d. Pendahuluan
Bagian pendahuluan artikel nonpenelitian berisi uraian yang mengantarkan pembaca kepada topik utama yang akan dibahas. Bagian ini menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatian pembaca dan memberikan acuan (konteks) bagi permasalahan yang akan dibahas misalnya dengan menonjolkan hal-hal yang kontroversial atau belum tuntas dalam pembahasan permasalahan terkait dalam artikel-artikel atau naskah-naskah lain yang telah dipublikasikan terdahulu. Oleh karena itu, isi bagian pendahuluan menguraikan hal-hal yang mampu menarik pembaca sehingga mereka ”tergiring” untuk mendalami bagian selanjutnya. Selain itu, bagian pendahuluan hendaknya diakhiri dengan rumusan singkat (1 – 2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas. Bagian pendahuluan tidak diberi judul.
e. Bagian Inti
Judul, judul bagian, dan isi bagian inti sebuah artikel nonpenelitian sangat bervariasi, lazimnya berisi kupasan, analisis, argumentasi, komparasi, keputusan, dan pendirian atau sikap penulis mengenai masalah yang dibicarakan, tergantung pada topik yang dibahas. Hal yang perlu mendapat perhatian pada bagian inti adalah pengorganisasian isinya. Uraian yang lebih rinci mengenai cara pengorganisasian isi dibahas pada paparan berikutnya.
Banyaknya subbagian juga tidak ditentukan, tergantung kepada kecukupan kebutuhan penulis untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. Di antara sifat-sifat artikel terpenting yang seharusnya ditampilkan di dalam bagian ini adalah kupasan yang argumentatif, analitik, dan kritis dengan sistematika yang runtut dan logis, sejauh mungkin dengan berciri komparatif dan menjauhi sifat tertutup dan instruktif. Walaupun demikian perlu dijaga agar tampilan bagian ini tidak terlalu panjang dan menjadi bersifat enumeratif seperti diktat. Penggunaan subbagian-subbagian yang terlalu banyak juga akan menyebabkan artikel tampil seperti diktat.

f. Penutup
Istilah penutup dipakai sebagai judul bagian akhir dari sebuah artikel nonpenelitian, jika isinya hanya berupa catatan akhir atau yang sejenisnya. Jika uraian pada bagian akhir berisi kesimpulan hasil pembahasan pada bagian sebelumnya, perlu dimasukkan pada bagian kesimpulan. Kebanyakan artikel nonpenelitian membutuhkan kesimpulan. Ada beberapa artikel nonpenelitian yang dilengkapi dengan saran. Sebaiknya saran ditempatkan dalam bagian tersendiri.
Penutup biasanya diisi dengan simpulan atau penegasan pendirian penulis atau masalah yang dibahs pada bagian sebelumnya. Banyak juga penulis yang berusaha menampilkan segala apa yang telah dibahas dibagian terdahulu, secara ringkas. Sebagian penulis mnyertakan saran-saran atau pendirian alternatif. Jika memang dianggap tepat bagian terakhir ini dapat disajikan dalam subbagian tersendiri.
g. Daftar Rujukan
Bahan rujukan yang dimasukkan dalam daftar rujukan hanya yang benar-benar dirujuk di dalam tubuh artikel. Jadi, bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam batang tubuh artikel. Karena itu, Daftar rujukan harus lengkap, mencakup semua bahan pustaka yang telah disebutkan dalam batang tubuh artikel.
Sebaliknya, semua rujukan yang telah disebutkan dalam tubuh artikel harus tercatat di dalam daftar rujukan. Penulisan daftar rujukan dilakukan pada halaman terakhir artikel, tidak pada halaman baru. Tata aturan penulisan daftar rujukan bervariasi, tergantung gaya selingkung yang dianut. Walaupun demikian, harus senantiasa diperhatikan bahwa tata aturan ini secara konsisten didiikuti dalam setiap nomor penerbitan.

2. Pengorganisasian Isi
Pengorganisasian isi mengacu kepada cara penataan urutan isi yang akan dipaparkan dalam artikel. Isi yang dimaksud dapat berupa fakta, konsep, prosedur, atau prinsip. Tipe isi yang berbeda memerlukan penataan urutan yang berbeda, tergantung pada struktur isinya.
Berikut ini adalah langkah yang perlu dilewati untuk menghasilkan pengiorganisasian isi artikel yang baik: (1) mengidentifikasi tipe isi yang akan dideskripsikan dalam artikel, (2) menetapkan struktur isi, (3) menata isi ke dalam strukturnya, (4) menata urutan isi, dan (5) mendeskripsikan isi mengikuti urutan yang telah ditetapkan.
Mengidentifikasi tipe isi yang akan dideskripsikan dalam artikel merupakan langkah paling awal. Isi yang dimaksud perlu dikaji secara cermat apakah berupa konsep, prosedur, atau prinsip. Tipe isi dikatakan konsep apabila menekankan uraian tentang ”apanya”, tipe isi prosedur menekankan ”bagaimana”, dan tipe isi dikatakan prinsip apabila menekankan ”mengapa”.
Menetapkan struktur isi merupakan langkah lanjutan setelah penetapan tipe isi. Struktur isi mengacu kepada kaitan antarisi. Penataan isi artikel perlu memperhatian struktur isinya. Dari struktur isi akan dapat diketahui isi mana yang selayaknya diuraikan lebih dulu dan isi mana yang diuraikan kemudian, serta seberapa dalam setiap isi perlu diuraikan.
Tipe isi yang berbeda menuntut struktur isi yang berbeda. Apabila isi yang akan diuraikan dalam artikel berupa konsep-konsep, maka isi ini sebaiknya ditata ke dalam struktur konseptual. Apabila isi yang akan diuraikan berupa prosedur, maka penataannya menuntut penggunaan struktur prosedural. Apabila isi yang akan diuraikan berupa prinsip, tatanan prinsip-prinsip itu ditata ke dalam struktur teoretik.
Langkah ketiga adalah menata isinya ke dalam strukturnya. Apabila hasil langkah kedua ternyata mengarah ke pembuatan struktur konseptual, maka langkah berikutnya adalah memilih semua konsep penting yang akan diuraikan dan manatanya menjadi suatu struktur yang bermakna, yang secara jelas menunjukkan keterkaitan antarkonsep itu.
Langkah keempat adalah menata urutan isi. Penataan ini dilakukan berpijak pada struktur yang telah dibuat pada langkah ketiga. Pada langkah ini semua konsep atau prosedur, atau prinsip yang telah dimasukkan dalam strukturnya ditata urutan pemaparannya. Beberapa ketentuan penataan urutan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
Pertama, paparkan struktur isi, sedapat mungkin pada bagian paling awal dari artikel. Struktur isi yang memuat bagian-bagian penting artikel dan kaitan-kaitan antarbagian itu perlu dipaparkan pada bagian awal untuk dijadikan kerangka acuan paparan isi yang lebih rinci.
Kedua, Paparkan bagian isi terpenting di bagian pertama. Pada tahap pemaparan isi yang diambil dari suatu struktur, upayakan memaparkan isi yang paling penting pertama kali. Penting tidaknya bagian isi ditentukan oleh sumbangannya untuk memahami keseluruhan isi artikel. Misalnya, jika konsepkonsep yang akan dipaparkan memiliki hubungan prasyarat belajar, maka konsep-konsep yang mempersyarati sebaiknya dipaparkan terlebih dulu.
Ketiga, sajikan isi secara bertahap dari umum ke rinci. Isi yang lebih umum sebaiknya disajikan mendahului isi yang lebih rinci. Selain itu, setiap paparan suatu bagian isi sebaiknya selalu ditunjukkan kaitannya dengan bagian isi yang lain.
Setelah melewati keempat langkah tersebut, penulis artikel tinggal membuat paparan isi sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam memaparkan isi upayakan menggunakan tahapan tingkat umum ke rinci secara bertahap. Dengan cara ini, tingkat sajian yang lebih umum akan menjadi pijakan bagian sajian isi yang lebih rinci.